LAMPUNG – Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Radin Inten II, Lampung. Sejumlah penerbangan dibatalkan akibat adanya sebaran abu vulkanik yang berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan.
Salah satu penerbangan yang terdampak adalah perjalanan sejumlah jemaah umrah asal Lampung menuju Jakarta. Pembatalan tersebut membuat para penumpang harus mencari alternatif perjalanan agar tetap dapat mengejar penerbangan lanjutan menuju Arab Saudi.
Lima jemaah umrah yang terdampak memilih melanjutkan perjalanan melalui jalur darat dan laut. Mereka meninggalkan Bandara Radin Inten II menggunakan kendaraan menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan.
Dari Bakauheni, rombongan berencana menyeberangi Selat Sunda menuju Pulau Jawa menggunakan kapal feri. Setelah tiba di Merak, perjalanan kembali dilanjutkan melalui jalur darat menuju Tangerang untuk bergabung dengan rombongan jemaah lainnya.
Salah satu jemaah sekaligus pengelola agen perjalanan umrah, Rahmawati, mengaku terkejut ketika mengetahui penerbangan menuju Jakarta dibatalkan. Menurutnya, informasi mengenai pembatalan tersebut diterima ketika rombongan sudah berada dalam perjalanan.
Rombongan sebelumnya berangkat dari Bandar Jaya, Lampung Tengah. Mereka dijadwalkan menuju Bandara Soekarno-Hatta untuk bergabung dengan jemaah lain sebelum melanjutkan penerbangan menuju Tanah Suci.
Namun, rencana perjalanan berubah setelah penerbangan dari Radin Inten II terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Kondisi tersebut membuat rombongan tidak ingin mengambil risiko terlalu lama menunggu kepastian jadwal penerbangan.
Waktu menjadi pertimbangan utama bagi para jemaah. Mereka khawatir jika terlalu lama berada di Lampung, jadwal penerbangan lanjutan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Arab Saudi akan terlewat.
Karena itu, keluarga Rahmawati segera menyiapkan kendaraan untuk mengantar rombongan menuju Bakauheni. Mereka berharap layanan penyeberangan tetap berjalan sehingga perjalanan menuju Jakarta dapat dilanjutkan tanpa hambatan tambahan.
Selain persoalan perubahan rute perjalanan, para penumpang juga menyampaikan kekecewaan terkait pemberitahuan pembatalan penerbangan. Informasi yang diterima secara mendadak membuat mereka merasa memiliki waktu yang sangat terbatas untuk menentukan pilihan perjalanan berikutnya.
Rahmawati mengatakan, apabila pemberitahuan diterima lebih awal, rombongan dapat langsung mengubah rencana perjalanan tanpa terlebih dahulu datang ke bandara. Kondisi tersebut dinilai menyulitkan karena para jemaah harus mengejar jadwal penerbangan berikutnya.
Persoalan tiket juga menjadi perhatian para penumpang. Lima jemaah tersebut diketahui memiliki tiket dalam satu kode pemesanan dengan nilai sekitar Rp3 juta per orang.
Di tengah situasi tersebut, para jemaah tetap berupaya melanjutkan perjalanan sesuai rencana. Mereka berharap perjalanan melalui jalur darat dan penyeberangan dapat berlangsung lancar sehingga tidak kehilangan kesempatan untuk bergabung dengan rombongan utama di Jakarta.
Gangguan penerbangan ini terjadi setelah aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat dan abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah. Kondisi tersebut membuat otoritas penerbangan harus menyesuaikan operasional demi mengutamakan keselamatan penerbangan.
Erupsi Anak Krakatau juga berdampak lebih luas terhadap transportasi udara. Sejumlah bandara mengalami penutupan sementara dan banyak penerbangan harus dibatalkan atau disesuaikan akibat keberadaan abu vulkanik di wilayah udara.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik dapat memberikan dampak langsung terhadap mobilitas masyarakat, termasuk perjalanan udara dan agenda perjalanan yang sudah direncanakan. Penumpang pun diimbau terus memperhatikan informasi resmi dari maskapai, bandara, dan otoritas terkait sebelum melakukan perjalanan.
Jurnalis : Danilo Fernandes
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !