Bencana tanah longsor yang terjadi di wilayah Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, menyebabkan akses jalan utama menuju dua desa terputus total. Material berupa tanah, bebatuan, dan pohon tumbang menutup badan jalan sehingga kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas. Akibat peristiwa tersebut, sebanyak 2.104 warga dari dua desa terpaksa mengalami keterisolasian karena jalur transportasi yang menjadi akses utama menuju wilayah mereka tidak dapat digunakan.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), longsor dipicu oleh curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur kawasan tersebut selama beberapa hari. Hujan deras menyebabkan aliran Sungai Swuya meluap dan mengikis tebing di sekitar jalan hingga akhirnya terjadi longsoran yang menutup seluruh badan jalan. Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat lumpuh, termasuk distribusi logistik, pelayanan kesehatan, pendidikan, hingga kegiatan ekonomi warga setempat.
Dua desa yang terdampak paling besar adalah Desa Salubiro dan Desa Lemowalia di Kecamatan Bungku Utara. Total sebanyak 627 kepala keluarga atau sekitar 2.104 jiwa masih berada di wilayah yang terisolasi. Meski demikian, hingga laporan terakhir tidak terdapat korban jiwa maupun warga yang harus mengungsi akibat kejadian tersebut. Pemerintah daerah terus melakukan pemantauan untuk memastikan kondisi masyarakat tetap aman sambil menunggu akses jalan dapat dibuka kembali.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD bersama unsur pemerintah daerah telah diterjunkan ke lokasi guna melakukan asesmen serta berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait. Penanganan difokuskan pada pembukaan akses jalan menggunakan alat berat, sekaligus menyiapkan langkah darurat agar bantuan logistik tetap dapat menjangkau masyarakat yang terdampak. Pemerintah juga mengidentifikasi kebutuhan mendesak berupa pembangunan jembatan darurat dan penimbunan badan jalan yang mengalami kerusakan cukup parah.
Selain menghambat mobilitas warga, putusnya akses jalan juga berdampak pada distribusi bahan kebutuhan pokok. Masyarakat di dua desa tersebut kini sangat bergantung pada upaya pemerintah dalam mempercepat proses penanganan agar aktivitas sehari-hari dapat kembali berjalan normal. Apabila kondisi cuaca kembali memburuk, dikhawatirkan proses evakuasi dan pembukaan akses jalan akan menghadapi tantangan yang lebih besar.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi longsor susulan mengingat curah hujan di wilayah Sulawesi Tengah masih cukup tinggi. Warga juga diminta menghindari area lereng yang rawan longsor dan segera melaporkan kepada aparat apabila menemukan retakan tanah maupun tanda-tanda pergerakan tanah yang berpotensi menimbulkan bencana.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan longsor tinggi. Peningkatan sistem peringatan dini, perbaikan infrastruktur, serta penataan kawasan rawan bencana diharapkan dapat mengurangi risiko kejadian serupa pada masa mendatang. Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan terus berupaya mempercepat pemulihan akses sehingga masyarakat yang terisolasi dapat kembali menjalankan aktivitas secara normal.
Jurnalis : Danilo Fernandes
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !