Rencana pembangunan SMPN 25 Tangerang Selatan mendapat penolakan dari sejumlah warga. Salah satu persoalan utama yang menjadi perhatian masyarakat adalah kondisi akses jalan menuju lokasi pembangunan yang dinilai terlalu sempit. Jalan tersebut disebut hanya memiliki lebar sekitar 4 meter, sehingga warga khawatir keberadaan sekolah nantinya dapat menimbulkan kepadatan lalu lintas, terutama pada jam masuk dan pulang sekolah.
Warga menilai pembangunan fasilitas pendidikan memang penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap sekolah negeri. Namun, pembangunan tersebut dinilai perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar, termasuk kapasitas jalan dan kemampuan kawasan dalam menampung aktivitas kendaraan maupun mobilitas warga setiap harinya.
Kekhawatiran mengenai kemacetan terutama muncul karena aktivitas sekolah berpotensi meningkatkan jumlah kendaraan yang melintas di kawasan tersebut. Pada waktu tertentu, kendaraan antar-jemput siswa, sepeda motor, kendaraan orangtua, guru, serta aktivitas masyarakat sekitar dapat berlangsung secara bersamaan. Dengan kondisi jalan yang relatif sempit, warga khawatir arus kendaraan akan tersendat dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Selain persoalan lalu lintas, masyarakat juga mempertimbangkan aspek keselamatan. Jalan dengan ruang yang terbatas akan digunakan secara bersamaan oleh kendaraan dan pejalan kaki. Kondisi tersebut dinilai perlu mendapatkan perhatian serius apabila nantinya kawasan tersebut menjadi akses utama bagi ratusan siswa dan tenaga pendidik.
Warga berharap pemerintah tidak hanya melihat kebutuhan pembangunan sekolah dari sisi ketersediaan fasilitas pendidikan. Kajian mengenai dampak pembangunan terhadap lingkungan sekitar juga dinilai penting dilakukan sebelum proyek dilanjutkan. Pemerintah diharapkan dapat memastikan bahwa keberadaan sekolah nantinya tidak menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat yang telah lebih dahulu tinggal di kawasan tersebut.
Menurut warga, diperlukan solusi yang dapat mengakomodasi kebutuhan pendidikan sekaligus menjaga kenyamanan lingkungan. Apabila pembangunan tetap dilaksanakan, berbagai persoalan seperti pengaturan lalu lintas, akses keluar-masuk sekolah, titik antar-jemput siswa, hingga pengelolaan kendaraan perlu direncanakan secara matang.
Penolakan warga tersebut bukan berarti masyarakat tidak mendukung peningkatan fasilitas pendidikan. Justru, warga menginginkan agar pembangunan SMPN 25 Tangerang Selatan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi kawasan secara menyeluruh. Dengan perencanaan yang matang, sekolah diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa mengorbankan kelancaran lalu lintas dan keselamatan warga sekitar.
Pemerintah daerah diharapkan dapat membuka ruang dialog dengan masyarakat untuk membahas berbagai kekhawatiran tersebut. Komunikasi antara pemerintah, warga, dan pihak terkait diperlukan agar persoalan akses jalan dapat ditemukan solusinya sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.
Keberadaan sekolah negeri menjadi kebutuhan penting seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap akses pendidikan. Namun, pembangunan fasilitas publik perlu disertai perencanaan tata ruang dan infrastruktur yang memadai. Dengan demikian, fasilitas pendidikan yang dibangun dapat berfungsi secara optimal sekaligus tetap selaras dengan kondisi lingkungan di sekitarnya.
Jurnalis : Rizki Ahmad Noviyandi
“`
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !