A
Jakarta – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia berdampak hingga ke sejumlah negara tetangga di Asia Tenggara. Kondisi kualitas udara yang memburuk mendorong masyarakat meningkatkan upaya perlindungan kesehatan, termasuk membeli tabung oksigen, konsentrator oksigen, dan alat pemurni udara atau air purifier. Lonjakan permintaan tersebut terjadi seiring meluasnya paparan asap yang memicu gangguan pernapasan dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Dampak kabut asap dilaporkan berlangsung selama berbulan-bulan di sejumlah wilayah Asia Tenggara. Selain menurunkan kualitas udara, kondisi tersebut turut mengganggu kegiatan pendidikan hingga menyebabkan sekolah-sekolah di wilayah terdampak harus ditutup sementara. Kekhawatiran terhadap kesehatan membuat masyarakat mencari berbagai cara untuk mengurangi paparan polutan di lingkungan tempat tinggal mereka.
Di Malaysia, peningkatan permintaan terlihat pada penjualan perangkat pendukung pernapasan. Rafina Firdaus, anggota tim penjualan sebuah merek alat kesehatan, mengatakan penjualan produk perusahaan meningkat sebesar 35 persen akibat kabut asap. Perusahaan tersebut memasok tabung oksigen dan konsentrator oksigen yang digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan oksigen pasien.
Tabung oksigen dan konsentrator oksigen memiliki fungsi yang berkaitan, tetapi cara penggunaannya berbeda. Tabung oksigen menyimpan oksigen yang dapat digunakan sesuai kapasitas dan laju aliran, sedangkan konsentrator mengambil dan memusatkan oksigen dari udara sekitar melalui sistem penyaringan khusus. Dalam laporan yang dikutip detikHealth, tabung oksigen disebut dapat digunakan sekitar tiga jam secara terus-menerus, sementara konsentrator oksigen dapat digunakan hingga sekitar 24 jam, bergantung pada perangkat dan penggunaannya.
Salah satu warga Malaysia yang merasakan dampak kabut asap adalah Md Noor Bin Bujang, berusia 69 tahun. Ia dilaporkan menghabiskan lebih dari satu bulan menjalani perawatan di rumah sakit. Pada malam 15 Oktober 2026, Bujang menerima konsentrator oksigen pertamanya. Ia mengungkapkan bahwa dirinya mengalami sesak napas akibat kondisi kabut asap ketika tidak menggunakan alat tersebut.
Kasus tersebut menggambarkan bagaimana memburuknya kualitas udara dapat menjadi persoalan serius bagi masyarakat, terutama mereka yang memiliki gangguan pernapasan atau membutuhkan dukungan oksigen. Meski demikian, penggunaan alat bantu oksigen harus disesuaikan dengan kebutuhan medis dan arahan tenaga kesehatan. Perangkat tersebut bukan pengganti penanganan medis untuk gejala sesak napas yang berat atau memburuk.
Polusi dari kabut asap juga berdampak terhadap pemeliharaan perangkat kesehatan. Filter pada konsentrator oksigen umumnya perlu diganti setelah mencapai sekitar 1.000 jam penggunaan, sesuai informasi yang dikutip dalam laporan tersebut. Namun, tingginya paparan polutan akibat kabut asap dilaporkan membuat masa pakai filter berkurang hingga setengahnya. Kondisi ini dapat meningkatkan kebutuhan perawatan dan penggantian komponen perangkat.
Selain perangkat oksigen, penjualan alat pemurni udara juga mengalami kenaikan signifikan. Sebuah perusahaan ritel elektronik melaporkan volume penjualan air purifier meningkat hingga 600 persen selama periode 28 September sampai 12 Oktober 2026 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Lonjakan tersebut terjadi ketika kondisi asap akibat karhutla dilaporkan semakin parah sejak Agustus.
Perusahaan alat pemurni udara asal Singapura juga melaporkan peningkatan permintaan. Dalam keterangannya, perusahaan tersebut menyebut lonjakan penjualan mulai terlihat semakin tajam sejak 9 Oktober 2026. Sejak periode itu, penjualan produknya meningkat hingga sembilan kali lipat dibandingkan dengan tingkat penjualan pada awal musim kabut asap pada Agustus.
Air purifier digunakan untuk membantu mengurangi partikel polutan di udara dalam ruangan. Efektivitasnya bergantung pada jenis filter, kemampuan perangkat, ukuran ruangan, serta cara pemakaian. Perangkat dengan filter partikulat efisiensi tinggi dapat membantu menyaring partikel halus dari asap, tetapi tidak semua alat pemurni udara mampu menghilangkan seluruh jenis polutan gas. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan spesifikasi perangkat dan menggunakannya sesuai petunjuk produsen.
Para ahli mengingatkan bahwa paparan polutan kabut asap dalam jangka panjang dapat memicu peradangan dan berdampak pada berbagai sistem tubuh. Partikel halus yang terhirup dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan, terutama pada kelompok rentan. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit jantung atau gangguan pernapasan perlu memberikan perhatian khusus ketika kualitas udara memburuk.
Dampak kabut asap tidak terbatas pada keluhan sesak napas. Paparan polusi udara juga dapat disertai batuk, iritasi mata, tenggorokan terasa tidak nyaman, dan memburuknya penyakit pernapasan yang telah dimiliki sebelumnya. Tingkat risiko dipengaruhi oleh konsentrasi polutan, lamanya paparan, kondisi kesehatan seseorang, dan aktivitas yang dilakukan selama berada di lingkungan tercemar.
Untuk mengurangi risiko, masyarakat di wilayah terdampak disarankan memantau informasi kualitas udara dari sumber resmi, membatasi aktivitas fisik di luar ruangan ketika polusi tinggi, serta menutup pintu dan jendela saat udara luar sangat tercemar. Penggunaan air purifier yang sesuai dapat menjadi langkah tambahan untuk menjaga kualitas udara dalam ruangan. Apabila harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat dapat mengikuti anjuran otoritas kesehatan mengenai penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus.
Lonjakan penjualan perangkat kesehatan dan pemurni udara tersebut memperlihatkan besarnya kekhawatiran masyarakat terhadap dampak kabut asap lintas negara. Namun, pembelian perangkat saja tidak cukup untuk mengatasi persoalan kesehatan masyarakat apabila sumber polusi masih berlangsung. Pencegahan kebakaran, penanganan titik api, pengawasan kawasan rawan, serta koordinasi antardaerah dan antarnegara tetap dibutuhkan untuk mengurangi penyebaran asap.
Penanganan karhutla juga memerlukan upaya berkelanjutan untuk mencegah kebakaran berulang dan melindungi masyarakat dari paparan polutan. Selain langkah darurat untuk menjaga kesehatan, pengendalian sumber kebakaran menjadi bagian penting dalam penyelesaian masalah. Tanpa pengurangan sumber asap, masyarakat di wilayah terdampak berpotensi terus menghadapi gangguan kualitas udara dan meningkatnya kebutuhan perlindungan kesehatan.
Hingga Senin, 19 Oktober 2026, laporan yang dikutip detikHealth menunjukkan peningkatan permintaan tabung oksigen, konsentrator oksigen, dan air purifier di sejumlah negara tetangga Indonesia. Kenaikan tersebut menjadi gambaran dampak luas kabut asap akibat karhutla terhadap kehidupan masyarakat dan kebutuhan layanan kesehatan. Sementara itu, perlindungan kesehatan masyarakat dan pengendalian kebakaran tetap menjadi langkah penting untuk menekan dampak kabut asap yang melintasi batas negara.
Jurnalis : Wulandari
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !