Jejak Harta Karun di Jawa Timur, dari Perhiasan Emas Kerajaan hingga Ribuan Koin Kuno

 

Jejak Harta Karun di Jawa Timur, dari Perhiasan Emas Kerajaan hingga Ribuan Koin Kuno

Jawa Timur menyimpan kekayaan sejarah yang luar biasa dari berbagai periode kerajaan di Nusantara. Berbagai peninggalan berharga ditemukan di sejumlah daerah, mulai dari perhiasan emas dan perak, arca kuno, struktur bangunan candi, hingga ribuan keping uang logam yang diduga berkaitan dengan aktivitas perdagangan pada masa lampau. Temuan-temuan tersebut menjadi bukti penting untuk menelusuri perkembangan peradaban, kebudayaan, serta hubungan masyarakat Jawa Timur dengan wilayah lain.

Sejumlah penemuan bahkan bermula dari aktivitas sehari-hari masyarakat. Ada benda bersejarah yang ditemukan ketika petani menggarap lahan, sementara artefak lainnya terungkap melalui penelitian dan ekskavasi arkeologi. Meski kerap disebut sebagai harta karun karena bentuk dan nilai bendanya, peninggalan tersebut memiliki arti yang jauh lebih luas daripada sekadar nilai material, yakni sebagai sumber informasi untuk memahami perjalanan sejarah Indonesia.

Beberapa temuan penting tersebar di Mojokerto, Jombang, Ngawi, hingga Pasuruan. Peninggalan tersebut berasal dari masa yang berbeda-beda dan memperlihatkan beragam aspek kehidupan masyarakat terdahulu, mulai dari keterampilan seni, perkembangan keagamaan, hingga kemungkinan adanya hubungan perdagangan lintas wilayah.

1. Harta Karun Desa Muteran di Mojokerto

Salah satu penemuan bersejarah yang menarik perhatian terjadi pada 1881, ketika sejumlah petani menemukan sebuah wadah logam berukuran besar saat mengolah lahan pertanian di Desa Muteran. Wilayah yang dahulu termasuk Keresidenan Surabaya tersebut kini berada di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, daerah yang dikenal memiliki banyak peninggalan dari masa kerajaan kuno.

Wadah tersebut berisi berbagai benda berharga berbahan emas dan perak. Berdasarkan konteks lokasi penemuannya, koleksi Muteran dikaitkan dengan rentang masa Kerajaan Medang hingga Majapahit, sekitar abad ke-10 sampai abad ke-14 Masehi. Temuan ini menjadi salah satu sumber penting untuk mempelajari perkembangan seni kriya dan kebudayaan masyarakat Jawa pada masa tersebut.

Sejumlah benda dari temuan Muteran kini tersimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta dan Museum Volkenkunde di Belanda. Koleksinya mencakup arca Kuwera yang digambarkan duduk di atas bantalan teratai sambil memegang kantong uang, serta arca Yaksi dalam posisi padmasana.

Selain arca, terdapat pula arca Dhyani Buddha Wairocana dengan sikap tangan dharmacakramudra. Benda lainnya meliputi kalung dengan bandul bermotif daun palem dan jambu mete, kelat bahu dengan teknik hias repousse, serta ikat pinggang yang dihiasi motif lidah api dan untaian ratna.

Keberagaman bentuk dan teknik pengerjaan benda-benda tersebut menunjukkan tingginya keterampilan pengrajin pada masa lampau. Keberadaan unsur keagamaan, perhiasan, dan perlengkapan lainnya juga memberikan gambaran mengenai kehidupan sosial serta tradisi budaya yang berkembang pada zamannya.

2. Situs Pandegong di Jombang Mengungkap Struktur Bangunan Kuno

Kabupaten Jombang juga menyimpan peninggalan arkeologi penting melalui Situs Pandegong yang terletak di Dusun Kwasen, Desa Menganto, Kecamatan Mojowarno. Situs ini menjadi perhatian para peneliti karena menyimpan struktur bangunan bata merah kuno yang dapat membantu mengungkap perkembangan arsitektur dan kebudayaan pada masa lalu.

Berdasarkan hasil ekskavasi tahap keempat yang dilakukan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur pada 2023, ditemukan struktur bangunan dengan denah berbentuk salib atau cruciform. Di bagian barat bangunan utama juga terdapat tiga bangunan candi perwara.

Penelitian terhadap situs tersebut telah berlangsung sejak 2021. Melalui proses ekskavasi secara bertahap, para arkeolog berupaya mengungkap bentuk bangunan, karakteristik struktur, serta berbagai artefak yang dapat membantu menjelaskan fungsi dan latar belakang sejarah situs.

Selain struktur bangunan, sejumlah benda lepas turut ditemukan, antara lain pecahan arca berbahan batu andesit, koin kuno dari Dinasti Tang, pecahan keramik dari Dinasti Song, serta bandul jala berbahan terakota berbentuk bola kecil.

Keberadaan koin dan keramik yang berkaitan dengan dinasti-dinasti Tiongkok menjadi petunjuk menarik untuk penelitian lebih lanjut mengenai hubungan masyarakat di kawasan tersebut dengan wilayah lain. Meski demikian, kesimpulan mengenai bentuk dan intensitas hubungan perdagangan pada masa itu tetap membutuhkan kajian arkeologis yang mendalam.

Situs Pandegong memperlihatkan bahwa peninggalan sejarah tidak hanya berbentuk benda berharga, tetapi juga dapat berupa struktur bangunan dan artefak sederhana yang memiliki nilai ilmiah. Setiap temuan dapat memberikan informasi berbeda untuk menyusun gambaran kehidupan masyarakat pada masa lampau.

3. Ribuan Keping Uang Kuno Ditemukan di Ngawi

Penemuan ribuan keping uang kuno juga terjadi di Kabupaten Ngawi pada 2009. Seorang warga Desa Kersoharjo, Kecamatan Geneng, bernama Suhud Jainudin menemukan sejumlah koin kuno yang tersimpan di dalam sebuah guci tanah liat.

Koin-koin tersebut memiliki lubang di bagian tengah dan tulisan beraksara Tiongkok pada keempat sisinya. Ciri fisik tersebut menjadikannya objek yang menarik untuk diteliti, terutama dalam upaya mengetahui asal-usul, rentang usia, serta kemungkinan penggunaannya pada masa lalu.

Temuan tersebut menambah daftar artefak yang ditemukan masyarakat di wilayah Jawa Timur. Namun, penentuan usia dan latar belakang sejarah suatu benda tidak cukup hanya berdasarkan bentuk atau tulisan yang terlihat. Pemeriksaan terhadap karakteristik material, konteks penemuan, serta perbandingan dengan koleksi arkeologi lain diperlukan untuk menghasilkan kesimpulan yang lebih akurat.

Museum Trinil Ngawi juga mengingatkan pentingnya penelitian lebih lanjut terhadap benda yang diduga sebagai cagar budaya. Proses identifikasi diperlukan agar informasi mengenai artefak tidak hanya didasarkan pada dugaan, tetapi memiliki landasan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Temuan uang kuno dalam jumlah besar memberikan peluang bagi para peneliti untuk mempelajari peredaran benda bernilai ekonomi pada masa lampau. Meski demikian, hubungan langsung antara koin tersebut dan jalur perdagangan tertentu masih perlu dibuktikan melalui penelitian yang sesuai.

4. Ratusan Artefak Emas dari Era Medang hingga Majapahit

Jawa Timur juga dikenal memiliki berbagai peninggalan berbahan emas yang berasal dari masa kerajaan kuno. Pada 2022, BPK Wilayah XI Jawa Timur mencatat sebanyak 254 lempengan dan benda emas yang diselamatkan dari berbagai penemuan sepanjang periode 1977 hingga 2008. Koleksi tersebut dikaitkan dengan masa Kerajaan Medang dan Majapahit.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 216 artefak dengan 59 variasi bentuk tersimpan di dalam brankas khusus. Bentuknya sangat beragam, mulai dari cincin, giwang, uncal, lempengan tipis berbentuk naga, miniatur kura-kura, gajah dan kerbau, hingga prasasti mini serta topeng emas.

Beberapa artefak juga memiliki hiasan berupa ukiran figur dewa, termasuk Ganesha dan Dewa Siwa. Benda-benda tersebut ditemukan di sejumlah wilayah, antara lain Mojokerto, Pasuruan, dan Trenggalek.

Keragaman bentuk tersebut menunjukkan bahwa emas pada masa kerajaan tidak hanya digunakan sebagai bahan perhiasan. Material ini juga diolah menjadi berbagai benda yang memiliki kemungkinan fungsi simbolis, keagamaan, sosial, atau seremonial. Untuk memastikan fungsi masing-masing artefak, para ahli perlu mempertimbangkan bentuk, teknik pembuatan, konteks penemuan, serta perbandingannya dengan peninggalan lain.

Teknik pengerjaan dan detail hiasan pada artefak emas juga menjadi sumber informasi mengenai keterampilan pengrajin pada masa lalu. Melalui penelitian terhadap benda-benda tersebut, para ahli dapat mempelajari perkembangan seni, teknologi pengolahan logam, serta selera estetika masyarakat pada periode kerajaan.

Keberadaan koleksi emas kuno tersebut sekaligus menegaskan pentingnya upaya pelestarian. Selain memiliki nilai material, artefak merupakan bagian dari warisan budaya yang tidak dapat digantikan apabila hilang atau rusak.

5. Guci Berisi Ribuan Koin Kuno Ditemukan di Pasuruan

Penemuan lain yang menarik terjadi di Kabupaten Pasuruan pada Januari 2025. Seorang petani bernama Kariyo menemukan sebuah guci berisi ribuan keping koin kuno ketika mengolah lahan Perhutani di Desa Andonosari, Kecamatan Tutur.

Berat keseluruhan koin tersebut dilaporkan mencapai sekitar satu kuintal. Koin-koin itu terbuat dari tembaga, memiliki lubang berbentuk persegi di bagian tengah, serta memuat aksara Tiongkok. Selain koin dan guci, ditemukan pula benda lain berupa lonceng kecil dan cermin kuno.

Ciri-ciri tersebut memunculkan dugaan bahwa sebagian benda memiliki kaitan dengan masa dinasti-dinasti di Tiongkok. Namun, asal-usul dan periode pembuatannya perlu ditetapkan melalui pemeriksaan lebih lanjut agar tidak terjadi kekeliruan dalam penafsiran sejarah.

Tim gabungan dari BPK Wilayah XI Jawa Timur dan dinas terkait telah melakukan survei terhadap lokasi penemuan. Meski demikian, informasi mengenai hasil penelitian lanjutan serta kepastian usia dan nilai sejarah artefak tersebut belum tersedia secara lengkap dalam laporan yang dirujuk.

Penemuan ini memperlihatkan pentingnya penanganan yang cermat terhadap benda-benda yang diduga memiliki nilai sejarah. Dokumentasi lokasi, pencatatan kondisi benda, serta pemeriksaan oleh tenaga ahli diperlukan untuk menjaga konteks penemuan dan membantu mengungkap informasi yang terkandung di dalamnya.

Nilai Sejarah Lebih Penting daripada Sekadar Harga Material

Berbagai temuan di Mojokerto, Jombang, Ngawi, dan Pasuruan memperlihatkan bahwa Jawa Timur menyimpan peninggalan dari beragam periode sejarah. Benda-benda tersebut memiliki karakteristik berbeda, mulai dari perhiasan emas dan perak, arca keagamaan, struktur candi, hingga koin yang menunjukkan kemungkinan hubungan dengan kebudayaan di luar Nusantara.

Walaupun kerap disebut sebagai harta karun, nilai utama peninggalan tersebut tidak hanya ditentukan oleh bahan pembuatnya atau perkiraan harga di pasaran. Informasi tentang waktu pembuatan, fungsi, pembuat, pemilik, serta konteks penggunaannya justru menjadi bagian penting untuk memahami kehidupan masyarakat pada masa lampau.

Karena itu, penemuan benda yang diduga sebagai peninggalan sejarah perlu ditindaklanjuti melalui prosedur yang tepat. Penelitian oleh ahli, pendataan, dan pelestarian dapat membantu memastikan artefak tetap terjaga serta memberikan manfaat bagi ilmu pengetahuan dan pendidikan generasi mendatang.

Masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga warisan budaya. Apabila menemukan benda yang diduga sebagai artefak bersejarah, masyarakat sebaiknya tidak terburu-buru memindahkan, membersihkan secara agresif, atau memperjualbelikannya. Melaporkan temuan kepada instansi kebudayaan yang berwenang dapat membantu proses pemeriksaan dan pelestarian dilakukan dengan benar.

Pada akhirnya, deretan penemuan tersebut menjadi pengingat bahwa tanah Jawa Timur bukan hanya menyimpan kekayaan alam, tetapi juga warisan peradaban yang bernilai tinggi. Melalui penelitian yang berkelanjutan dan perlindungan yang tepat, peninggalan masa lalu dapat terus memberikan pengetahuan tentang perjalanan sejarah, perkembangan kebudayaan, dan hubungan antarmasyarakat di Nusantara.

Jurnalis : Ghazy Fikri Izdihar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !