JAKARTA – Kinerja ekspor tenun ikat Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan pada semester I 2026. Nilai ekspor komoditas tersebut mencapai US$34.000, meningkat 150 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$13.600. Capaian ini menjadi peluang bagi pemerintah untuk memperluas pasar produk tenun tradisional sekaligus memperkuat pelestarian ulos sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Batak.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menilai peningkatan ekspor tersebut perlu diikuti dengan pengembangan industri tenun yang berkelanjutan. Menurutnya, kain tradisional seperti ulos tidak cukup hanya dipertahankan sebagai simbol budaya, tetapi juga perlu terus digunakan, dikembangkan, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang memproduksinya.
Pernyataan tersebut disampaikan Sarmuji saat membuka Pameran Tenun Ulos di Plasa Industri, Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (13/10/2026). Kegiatan yang diselenggarakan bersama Forum Konferensi Perempuan Huria Kristen Batak Protestan (FKP-HKBP) itu berlangsung pada 13–15 Oktober 2026 dengan mengusung tema “Menenun Harapan, Merajut Kemandirian”.
Pameran tersebut menghadirkan produk dari 50 industri kecil dan menengah (IKM) serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan FKP-HKBP. Produk yang ditampilkan tidak hanya berupa kain ulos, tetapi juga mencakup busana, tas kulit, aksesori, hingga kuliner khas Batak. Keberagaman produk ini memperlihatkan peluang pengembangan usaha berbasis budaya agar dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
Sarmuji menegaskan, ulos memiliki nilai yang melampaui fungsi kain sebagai kebutuhan sandang. Motif, warna, teknik pembuatan, serta filosofi yang terkandung di dalamnya menjadikan ulos bagian penting dari identitas dan tradisi masyarakat Batak. Karena itu, upaya pelestariannya perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan para perajin yang menjaga keterampilan menenun secara turun-temurun.
Menurut Sarmuji, pengembangan produk ulos dapat dilakukan melalui diversifikasi desain dan pemanfaatan kain tradisional untuk berbagai kebutuhan modern. Ulos berpotensi diolah menjadi busana siap pakai, aksesori fesyen, dekorasi interior, serta cendera mata. Pengembangan tersebut diharapkan dapat memperluas penggunaan ulos, termasuk di kalangan konsumen di luar komunitas masyarakat Batak, tanpa mengabaikan nilai budaya yang melekat pada produk tersebut.
Potensi pengembangan itu juga didukung oleh keberadaan sentra produksi tenun ulos di Sumatera Utara. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, terdapat 43 sentra tenun ulos di provinsi tersebut, antara lain di Kabupaten Tapanuli Utara, Toba, Samosir, dan Simalungun. Keberadaan sentra-sentra ini menjadi salah satu modal untuk memperkuat produksi sekaligus memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.
Meski memiliki peluang pasar, industri tenun tradisional masih menghadapi sejumlah tantangan. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, menyebut keberlanjutan keterampilan menenun, regenerasi perajin, inovasi desain, serta peningkatan kualitas produk sebagai sejumlah aspek yang perlu mendapat perhatian. Tantangan tersebut perlu ditangani agar kemampuan produksi dan kualitas tenun dapat berkembang mengikuti kebutuhan pasar.
Untuk mendukung pengembangan industri, Kementerian Perindustrian menjalankan berbagai program pembinaan, antara lain pelatihan sumber daya manusia, penguatan kewirausahaan, penyelenggaraan webinar dan diskusi, serta penumbuhan wirausaha baru IKM. Pemerintah juga mendorong peningkatan kapasitas produksi, pemanfaatan teknologi, dan perluasan akses pemasaran melalui promosi maupun pameran di dalam dan luar negeri.
Selain peningkatan daya saing, perlindungan terhadap kekhasan produk daerah menjadi bagian penting dalam pengembangan industri ulos. Reni menjelaskan bahwa Tenun Ulos Ragidup Silindung dari Tapanuli Utara telah memperoleh sertifikat Indikasi Geografis. Perlindungan ini menjadi salah satu upaya untuk menjaga identitas produk yang memiliki keterkaitan dengan daerah asalnya sekaligus memperkuat pengakuan terhadap kekhasan tenun tersebut.
Peran perempuan juga menjadi perhatian dalam upaya menjaga keberlanjutan industri tenun. Keterampilan menenun yang diwariskan antargenerasi tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga menjadi bagian dari kegiatan ekonomi keluarga dan daerah. Penguatan kapasitas perajin serta terbukanya peluang pemasaran diharapkan dapat membantu mempertahankan mata pencaharian sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
Peningkatan nilai ekspor tenun ikat sebesar 150 persen pada semester I 2026 memberikan peluang bagi pelaku industri untuk memperluas jangkauan pasar. Namun, pengembangan tersebut tetap membutuhkan dukungan terhadap kualitas produk, kapasitas produksi, inovasi, dan kesinambungan keterampilan perajin. Dengan langkah tersebut, ulos diharapkan dapat terus berkembang sebagai warisan budaya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mempertahankan identitas masyarakat Batak.
Jurnalis : Wulandari
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !