Dipecat dari PDIP Usai Temui Jokowi, Achmad Hidayat Resmi Bergabung dengan PSI dan Siap Hadapi Pemilu 2029

Dipecat dari PDIP Usai Temui Jokowi, Achmad Hidayat Resmi Bergabung dengan PSI dan Siap Hadapi Pemilu 2029

Mantan kader PDI Perjuangan (PDIP) Surabaya, Achmad Hidayat, resmi bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) setelah sebelumnya diberhentikan dari keanggotaan partai berlambang banteng tersebut. Kepindahan Achmad ke partai yang identik dengan simbol gajah itu menjadi perhatian publik, terutama karena keputusan tersebut muncul setelah polemik kunjungannya ke kediaman Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi).

Achmad mengonfirmasi bahwa dirinya telah menjadi bagian dari PSI dan menerima kartu tanda anggota (KTA). Ia menyatakan telah memantapkan pilihan politiknya dan siap terlibat dalam kegiatan organisasi serta memperkuat pergerakan partai di Kota Surabaya. Keputusan tersebut sekaligus menandai babak baru perjalanan politiknya setelah tidak lagi menjadi bagian dari PDIP.

Achmad menegaskan bahwa dirinya ingin memberikan kontribusi nyata bagi partai barunya, terutama dalam menghadapi agenda politik mendatang. Ia menyatakan akan mengerahkan seluruh kemampuan dan tenaganya untuk mendukung upaya PSI memperkuat dukungan masyarakat di Surabaya pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2029.

Menurut Achmad, keterlibatannya dalam PSI bukan sekadar perpindahan keanggotaan dari satu partai ke partai lainnya. Ia ingin terlibat langsung dalam kerja-kerja politik yang menyentuh masyarakat dan membangun komunikasi dengan warga. Baginya, dukungan terhadap partai harus diwujudkan melalui kegiatan yang memberikan manfaat serta mampu menjawab aspirasi masyarakat.

Achmad Hidayat Ungkap Alasan Memilih PSI

Achmad juga menjelaskan sejumlah pertimbangan yang mendasari keputusannya bergabung dengan PSI. Ia berharap dapat menemukan ruang politik yang sejalan dengan pandangannya, terutama berkaitan dengan nilai-nilai kebangsaan, demokrasi, dan keberpihakan kepada masyarakat.

Ia memandang PSI sebagai partai yang berpotensi mengembangkan semangat nasionalisme, pemikiran Sukarnois dan Marhaenis, serta prinsip demokrasi yang lebih dekat dengan masyarakat. Selain itu, Achmad menilai nilai kebinekaan dan semangat Bhinneka Tunggal Ika merupakan prinsip penting yang perlu terus diperkuat dalam kehidupan politik Indonesia.

Dalam penjelasannya, Achmad tidak menampik bahwa keberadaan Jokowi di PSI turut menjadi salah satu pertimbangannya. Namun, ia membantah apabila keputusannya bergabung disebut sebagai hasil tawaran langsung dari Jokowi. Ia menjelaskan bahwa faktor keberadaan mantan presiden tersebut di partai menjadi salah satu hal yang menarik perhatiannya, meskipun keputusan untuk bergabung tetap menjadi pilihannya sendiri.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa perpindahan Achmad tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik yang berkembang setelah dirinya berkunjung ke kediaman Jokowi. Meski demikian, ia menyatakan siap menjalankan peran baru di PSI dan berupaya memberikan sumbangsih bagi perkembangan partai di wilayah Surabaya.

Pemecatan dari PDIP Berawal dari Kunjungan ke Kediaman Jokowi

Sebelum memutuskan bergabung dengan PSI, Achmad merupakan kader PDIP di Surabaya. Namanya menjadi sorotan setelah melakukan kunjungan atau sowan ke kediaman Jokowi di Solo, Jawa Tengah. Kunjungan tersebut kemudian menimbulkan persoalan internal partai karena disertai dengan penyampaian usulan agar status keanggotaan Jokowi di PDIP dapat direhabilitasi.

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP kemudian mengambil keputusan untuk memberhentikan Achmad dari keanggotaan partai. Keputusan itu tertuang dalam Surat Keputusan DPP PDIP Nomor 105/KPTS/DPP/2026 yang ditetapkan di Jakarta pada 4 September 2026 dan ditandatangani Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bersama Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto.

Dalam keputusan tersebut, tindakan Achmad bertamu ke kediaman Jokowi dan menyampaikan usulan rehabilitasi keanggotaan mantan presiden itu dinilai oleh DPP PDIP sebagai bentuk pembangkangan di luar kewenangan serta pelanggaran disiplin berat. Keputusan tersebut mengakhiri keanggotaan Achmad di partai yang sebelumnya menjadi tempatnya beraktivitas dalam politik.

Pemecatan itu sekaligus menjadi bagian dari dinamika internal PDIP di tengah perkembangan hubungan politik sejumlah tokoh nasional. Kunjungan Achmad kepada Jokowi menjadi persoalan organisasi yang berujung pada sanksi pemecatan, sebelum akhirnya ia memilih melanjutkan perjalanan politik melalui PSI.

PSI Membuka Kesempatan bagi Achmad Hidayat

Sebelum Achmad secara resmi bergabung, PSI telah menyampaikan sikap terbuka terhadap keinginannya untuk masuk ke partai tersebut. Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PSI Jawa Timur, Abdul Ghoni, sebelumnya menyatakan bahwa PSI terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang yang ingin bergabung dan berkontribusi dalam kegiatan politik.

Abdul Ghoni juga menyatakan menghormati mekanisme organisasi yang berlaku di partai lain, termasuk keputusan PDIP terkait pemberhentian Achmad. Ia menilai kunjungan kepada Jokowi sebagai tokoh nasional merupakan bagian dari silaturahmi yang dapat dilakukan masyarakat.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa PSI memberikan ruang bagi Achmad untuk melanjutkan aktivitas politiknya setelah tidak lagi menjadi kader PDIP. Bergabungnya Achmad kini menjadi langkah awal untuk membangun peran baru di dalam organisasi, sekaligus memperluas jaringan politik PSI di Kota Surabaya.

Sejumlah Kader PDIP Surabaya Disebut Ikut Bergabung

Dalam keterangannya, Achmad juga menyebut bahwa dirinya bukan satu-satunya orang yang meninggalkan PDIP untuk bergabung dengan PSI. Ia menyampaikan bahwa terdapat sejumlah nama lain yang turut berpindah ke partai tersebut.

Salah satu nama yang disebut adalah Purwadi, yang menurut Achmad masih aktif menjabat sebagai Wakil Sekretaris DPC PDIP Surabaya. Selain itu, ia juga menyebut Arif Wirawan, mantan Ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) PDIP Tambaksari, sebagai pihak yang ikut bergabung dengan PSI.

Keterangan tersebut menunjukkan adanya perpindahan sejumlah individu yang sebelumnya memiliki hubungan dengan struktur PDIP di Surabaya. Meski demikian, pernyataan mengenai perpindahan kader tersebut berasal dari Achmad Hidayat dan tidak serta-merta dapat diartikan sebagai perpindahan seluruh struktur organisasi PDIP ke PSI.

Perkembangan ini menjadi bagian dari dinamika politik lokal di Surabaya, terutama menjelang persiapan menuju Pemilu 2029. Perubahan afiliasi politik sejumlah tokoh dapat memengaruhi strategi penguatan organisasi dan konsolidasi partai, meskipun dampaknya terhadap peta dukungan pemilih masih bergantung pada perkembangan politik berikutnya.

Target Perkuat PSI Surabaya Menuju Pemilu 2029

Setelah resmi menjadi anggota PSI, Achmad menyatakan kesiapannya untuk bekerja secara maksimal demi meningkatkan kekuatan partai di Surabaya. Ia menargetkan dapat berkontribusi dalam upaya memenangkan PSI pada Pemilu 2029 melalui pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan dan aspirasi masyarakat.

Kerja-kerja kerakyatan menjadi salah satu pendekatan yang ingin didorongnya. Melalui kegiatan langsung di tengah masyarakat, komunikasi dengan warga, serta keterlibatan dalam berbagai persoalan lokal, ia berharap PSI dapat memperkuat kedekatan dengan masyarakat Surabaya.

Persiapan menuju Pemilu 2029 tentu membutuhkan konsolidasi organisasi, penguatan kader, serta strategi politik yang disesuaikan dengan kondisi daerah. Bagi Achmad, bergabungnya dirinya ke PSI merupakan kesempatan untuk memulai kembali kiprah politik sekaligus mengambil bagian dalam persiapan tersebut.

Di sisi lain, kepindahan Achmad dari PDIP ke PSI memperlihatkan dinamika perpindahan afiliasi politik yang dapat terjadi ketika seorang kader menghadapi perubahan situasi organisasi. Namun, keberhasilan dalam membangun dukungan tidak hanya ditentukan oleh nama tokoh yang bergabung, melainkan juga oleh kemampuan partai menjalankan program, membangun kepercayaan publik, dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Dengan status keanggotaan baru dan target politik yang telah disampaikan, Achmad Hidayat kini bersiap menjalankan aktivitasnya bersama PSI di Surabaya. Langkah selanjutnya adalah membuktikan komitmennya melalui kerja organisasi dan kegiatan di tengah masyarakat, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi persaingan politik menuju Pemilu 2029.

Jurnalis : Ghazy fikri izdihar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !