A
JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan pemanfaatan dry ice atau es kering dalam upaya mengurai kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Metode tersebut diterapkan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan melibatkan sejumlah instansi pemerintah untuk membantu mengurangi konsentrasi asap yang mengganggu aktivitas masyarakat dan transportasi udara.
Upaya ini menjadi salah satu pendekatan yang dilakukan pemerintah untuk menghadapi kondisi atmosfer yang menyebabkan asap karhutla terperangkap di dekat permukaan tanah. Ketika asap menumpuk dan sulit bergerak ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi, jarak pandang dapat menurun secara signifikan. Kondisi tersebut berpotensi menghambat mobilitas masyarakat, mengganggu aktivitas penerbangan, serta meningkatkan paparan polutan di lingkungan sekitar.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa penyemaian dry ice merupakan langkah taktis untuk menghadapi kondisi atmosfer tertentu yang menghambat penyebaran asap. Dalam situasi tersebut, asap kebakaran dapat tertahan pada lapisan atmosfer bawah hingga ketinggian sekitar 6.000–7.000 kaki, bahkan lebih tinggi, akibat adanya lapisan inversi.
Lapisan inversi merupakan kondisi atmosfer ketika susunan suhu udara menghambat pergerakan udara secara vertikal. Keadaan ini membuat udara di dekat permukaan sulit bergerak naik sehingga partikel asap dan polutan dapat terperangkap dalam waktu tertentu. Akibatnya, kabut asap menjadi lebih pekat dan kualitas udara di wilayah terdampak dapat memburuk.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan bahwa penyemaian dry ice dilakukan dari pesawat dengan sasaran lapisan atmosfer yang menahan pergerakan asap. Proses tersebut ditujukan untuk memengaruhi kestabilan atmosfer agar aliran udara vertikal dapat kembali terbentuk.
Dry ice atau es kering merupakan karbon dioksida dalam bentuk padat yang memiliki suhu sangat rendah. Ketika berubah langsung dari bentuk padat menjadi gas melalui proses sublimasi, material tersebut menimbulkan pendinginan di lingkungan sekitarnya. Dalam operasi modifikasi cuaca, proses ini dimanfaatkan untuk membantu mengubah kondisi atmosfer pada lapisan yang menjadi sasaran intervensi.
Melalui perubahan kondisi tersebut, udara diharapkan menjadi lebih mendukung pergerakan vertikal sehingga asap yang sebelumnya tertahan dapat bergerak naik dan menyebar ke lapisan atmosfer yang lebih luas. Namun, hasilnya tetap bergantung pada kondisi cuaca, struktur atmosfer, serta perkembangan situasi kebakaran di lapangan.
BMKG menegaskan bahwa penggunaan dry ice dalam operasi ini memiliki tujuan berbeda dari penyemaian awan konvensional untuk memicu hujan. Apabila penyemaian awan umumnya diarahkan untuk mendukung pembentukan hujan, penggunaan dry ice pada kegiatan ini difokuskan untuk membantu mengatasi lapisan inversi yang menghambat pergerakan asap.
Metode tersebut dinilai dapat menjadi alternatif ketika kondisi langit cenderung kering dan jumlah awan yang berpotensi disemai untuk menghasilkan hujan relatif terbatas. Dengan demikian, strategi modifikasi cuaca disesuaikan dengan hasil analisis meteorologi dan kondisi atmosfer yang berkembang di wilayah sasaran.
Untuk mengetahui efektivitas penggunaan dry ice, BMKG melakukan evaluasi berdasarkan sejumlah indikator yang dapat diukur. Dua parameter utama yang diperhatikan adalah perubahan jarak pandang atau visibility serta konsentrasi partikel polutan halus PM2.5 di udara.
Jarak pandang menjadi salah satu indikator penting karena kabut asap yang pekat dapat mengganggu keselamatan transportasi, khususnya penerbangan. Sementara itu, konsentrasi PM2.5 digunakan untuk memantau keberadaan partikel halus di udara yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan berdampak terhadap kesehatan apabila paparannya tinggi.
Berdasarkan pemantauan awal yang disampaikan BMKG, terdapat indikasi perbaikan jarak pandang di sejumlah wilayah terdampak setelah pelaksanaan intervensi dry ice. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Palembang, Sumatera Selatan, yang sebelumnya mengalami gangguan jarak pandang akibat kabut asap karhutla.
Meski demikian, perkembangan tersebut masih memerlukan pemantauan dan analisis secara berkelanjutan. Perubahan jarak pandang tidak dapat semata-mata dijadikan bukti bahwa seluruh persoalan kabut asap telah teratasi, mengingat kondisi atmosfer dapat berubah dan asap baru dapat kembali muncul selama kebakaran masih berlangsung.
Evaluasi secara berkala diperlukan untuk mengetahui sejauh mana operasi modifikasi cuaca memberikan dampak terhadap kualitas udara dan kondisi lingkungan. Hasil evaluasi tersebut juga menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam menentukan strategi penanganan berikutnya.
Pengurangan kabut asap menjadi perhatian penting karena kondisi udara yang buruk dapat menghambat berbagai kegiatan penanggulangan karhutla. Jarak pandang yang terbatas berpotensi mempersulit pelaksanaan patroli udara, operasi pemadaman menggunakan helikopter water bombing, serta kegiatan pemantauan titik api dari pesawat.
Dengan membaiknya jarak pandang apabila kondisi memungkinkan, armada udara diharapkan dapat menjalankan tugasnya secara lebih optimal sesuai dengan ketentuan keselamatan penerbangan. Kondisi tersebut juga berpotensi membantu aktivitas penerbangan sipil kembali berjalan lebih normal, dengan tetap mempertimbangkan hasil penilaian keselamatan oleh pihak berwenang.
Namun, penggunaan dry ice bukanlah pengganti kegiatan pemadaman kebakaran secara langsung. Teknologi tersebut difokuskan pada upaya memengaruhi kondisi atmosfer yang menahan asap, sedangkan sumber kebakaran tetap harus ditangani melalui operasi pemadaman di lapangan.
Karena itu, keberhasilan penanganan karhutla memerlukan strategi terpadu yang menggabungkan pemantauan cuaca, operasi udara, pemadaman darat, serta langkah pencegahan agar kebakaran tidak meluas. Tanpa penanganan sumber api, kabut asap berpotensi kembali terbentuk meskipun kondisi atmosfer sempat membaik.
Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca menggunakan dry ice melibatkan koordinasi lintas instansi, termasuk BMKG, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertahanan, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Setiap instansi memiliki peran sesuai tugas dan kewenangannya. BMKG memberikan dukungan analisis meteorologi serta strategi modifikasi cuaca, sementara unsur TNI mendukung pelaksanaan operasi udara. BNPB berperan dalam koordinasi penanggulangan bencana, sedangkan Kementerian Kehutanan mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan. BRIN turut berkontribusi melalui dukungan riset dan kajian ilmiah.
Kerja sama tersebut diperlukan agar penanganan karhutla dapat dilaksanakan secara terkoordinasi, mulai dari pemantauan kondisi atmosfer hingga pengendalian kebakaran di wilayah terdampak. Koordinasi juga membantu memastikan setiap tindakan disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kebutuhan operasional di lapangan.
BMKG menekankan bahwa modifikasi cuaca merupakan bagian dari rangkaian penanganan karhutla, bukan satu-satunya solusi. Pemadaman langsung, patroli untuk mendeteksi titik api, pencegahan pembakaran lahan, serta penegakan hukum terhadap pelanggaran tetap menjadi bagian penting dalam upaya mengendalikan kebakaran.
Pemanfaatan teknologi untuk mengurai kabut asap menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan pendekatan yang menyesuaikan kondisi di lapangan. Akan tetapi, langkah tersebut perlu diiringi dengan kebijakan pencegahan yang konsisten agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Pencegahan kebakaran perlu dilakukan melalui pengawasan kawasan rawan, deteksi dini titik panas, pengelolaan lahan yang bertanggung jawab, serta peningkatan kesadaran masyarakat mengenai bahaya pembakaran lahan. Pengawasan terhadap kawasan gambut juga penting karena kebakaran di wilayah tersebut dapat berlangsung di bawah permukaan dan sulit dipadamkan sepenuhnya.
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak kabut asap juga perlu memperhatikan informasi kualitas udara dan imbauan dari instansi terkait. Ketika kondisi udara memburuk, masyarakat disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan sesuai tingkat risiko, menggunakan masker yang sesuai ketika diperlukan, serta mengikuti arahan petugas kesehatan dan pemerintah daerah.
Ke depan, efektivitas penggunaan dry ice akan terus bergantung pada hasil pemantauan dan evaluasi teknis. Pemerintah diharapkan dapat mengoptimalkan kolaborasi antarlembaga, memperkuat upaya pemadaman di lapangan, dan meningkatkan pencegahan agar dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan, dan aktivitas ekonomi dapat ditekan.
Melalui kombinasi teknologi modifikasi cuaca dan penanganan langsung di sumber kebakaran, upaya pengendalian kabut asap diharapkan dapat berjalan lebih efektif. Meski demikian, keberhasilan jangka panjang tetap memerlukan komitmen berkelanjutan untuk mencegah kebakaran, menjaga ekosistem hutan, serta melindungi masyarakat dari dampak pencemaran udara.
Jurnalis : Rizki Ahmad Noviyandi
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !