JAKARTA – Serangan siber yang menyasar jaringan supermarket di Prancis dan sejumlah wilayah sekitarnya menimbulkan kerugian besar setelah sistem pendingin makanan diduga berhasil dikuasai peretas. Insiden tersebut berdampak pada ratusan gerai supermarket, menyebabkan berbagai produk pangan segar rusak dan tidak lagi layak dijual. Kasus ini menjadi perhatian karena serangan tidak hanya mengganggu sistem digital, tetapi juga memengaruhi operasional fisik toko serta keamanan penyimpanan bahan makanan.
Sejumlah jaringan ritel yang dilaporkan terdampak meliputi Intermarché, Cooperative U yang mengoperasikan gerai Super U, serta beberapa toko dalam jaringan Leclerc. Berdasarkan laporan yang beredar, sekitar 150 gerai Intermarché dan kurang dari 100 gerai Cooperative U mengalami dampak serangan tersebut. Sejumlah gerai Leclerc juga dilaporkan terdampak, meskipun jumlah pastinya belum dijelaskan secara terperinci.
Insiden ini memperlihatkan risiko yang muncul ketika perangkat operasional supermarket terhubung dengan sistem pengendalian digital. Perangkat pendingin yang seharusnya menjaga kesegaran makanan justru diduga dimanipulasi sehingga suhu di dalam lemari pendingin meningkat secara ekstrem. Akibatnya, pengelola toko harus menghadapi persoalan kerusakan barang dagangan sekaligus memastikan produk yang berpotensi membahayakan konsumen tidak sampai dijual.
Juru bicara Intermarché menjelaskan bahwa sistem pengendalian pendingin berhasil ditembus oleh pihak yang tidak berwenang. Peretas diduga mengaktifkan fitur pencairan bunga es atau defrost mode, yaitu mekanisme yang pada kondisi normal digunakan untuk menghilangkan penumpukan es pada perangkat pendingin. Namun, dalam insiden tersebut, aktivasi fitur itu menyebabkan suhu di dalam lemari pendingin melonjak hingga mencapai 50 derajat Celsius.
Perubahan suhu ekstrem tersebut dilaporkan berlangsung selama kurang lebih enam jam sebelum diketahui oleh karyawan toko. Dalam rentang waktu itu, bahan makanan yang membutuhkan penyimpanan bersuhu rendah berisiko mengalami kerusakan. Daging, produk olahan susu, serta berbagai bahan pangan segar lainnya disebut tidak lagi dapat dipertahankan dan harus dibuang untuk menghindari risiko terhadap kesehatan konsumen.
Kerusakan produk menjadi salah satu dampak paling nyata dari serangan tersebut. Supermarket bergantung pada sistem pendingin untuk menjaga mutu, kesegaran, dan keamanan berbagai bahan makanan yang dijual setiap hari. Ketika sistem itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya, pengelola harus segera memeriksa kondisi barang, memisahkan produk yang terdampak, serta memastikan makanan yang sudah tidak memenuhi persyaratan penyimpanan tidak kembali dipasarkan.
Dampak serangan juga disebut meluas ke sistem operasional lain di dalam toko. Laporan yang mengutip pemberitaan media La Dépêche menyebutkan bahwa sistem label harga elektronik pada rak turut mengalami gangguan. Apabila sistem tersebut tidak berfungsi, pegawai toko dapat menghadapi kesulitan dalam memperbarui informasi harga dan memastikan kesesuaian antara label di rak dengan data produk. Meski demikian, rincian mengenai tingkat gangguan dan jumlah gerai yang mengalami masalah pada sistem label harga belum dijelaskan secara lengkap.
Dari sisi keuangan, kerugian awal akibat insiden tersebut diperkirakan mencapai sedikitnya 300.000 euro atau sekitar Rp5,1 miliar. Nilai itu masih berupa perkiraan awal dan berpotensi bertambah setelah seluruh produk yang rusak serta dampak operasional dihitung. Besarnya kerugian akhir dapat dipengaruhi oleh jumlah barang yang harus dimusnahkan, lamanya gangguan, dan biaya yang diperlukan untuk memulihkan sistem di setiap gerai terdampak.
Perhatian berikutnya tertuju pada teknologi pengendali pendingin yang digunakan oleh jaringan supermarket tersebut. Sistem pengendalian di Intermarché dilaporkan dikelola menggunakan teknologi dari Danfoss, perusahaan yang menyediakan solusi untuk berbagai kebutuhan pengaturan suhu dan sistem pendingin. Keterlibatan perangkat pengendali ini membuat aspek keamanan teknologi operasional menjadi bagian penting dalam penyelidikan atas insiden tersebut.
Kasus ini juga dikaitkan dengan peringatan yang sebelumnya disampaikan peneliti keamanan siber dari Team82. Dalam laporan risetnya, tim tersebut pernah mengungkap sejumlah celah keamanan kritis pada pengontrol refrigerasi Danfoss yang dinilai berpotensi memungkinkan pengambilalihan kendali suhu dari jarak jauh. Namun, keterkaitan antara kerentanan yang pernah dilaporkan dan serangan terhadap supermarket tersebut tetap memerlukan verifikasi teknis. Belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa celah tertentu menjadi penyebab langsung insiden tanpa hasil investigasi yang memastikan hal itu.
Sementara itu, Dominique Schelcher, CEO Cooperative U, mengonfirmasi bahwa tim teknis telah diterjunkan ke jaringan toko untuk menangani masalah dan melakukan pemeriksaan menyeluruh. Langkah tersebut ditujukan untuk memulihkan sistem yang terdampak sekaligus menelusuri bagaimana akses tidak sah dapat terjadi. Pemeriksaan terhadap perangkat pengendali, jaringan komunikasi, serta sistem operasional terkait menjadi penting agar penyebab gangguan dapat diidentifikasi secara tepat.
Hingga laporan tersebut diterbitkan pada Rabu, 14 Oktober 2026, belum ada kelompok peretas yang secara terbuka mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Identitas pelaku, motif, dan metode yang digunakan untuk memperoleh akses ke sistem masih menjadi bagian dari persoalan yang perlu ditelusuri lebih lanjut. Karena itu, dugaan mengenai pihak yang berada di balik serangan belum dapat dipastikan.
Para pakar keamanan siber juga menyoroti kemungkinan bahwa serangan terhadap perangkat pendingin dapat menjadi bagian dari upaya menguji kelemahan sistem infrastruktur operasional. Kekhawatiran tersebut muncul karena gangguan terhadap perangkat yang mengendalikan kondisi fisik suatu fasilitas bisa menimbulkan konsekuensi nyata, meskipun serangannya berawal dari sistem digital. Kendati demikian, anggapan bahwa insiden ini merupakan uji coba sebelum serangan yang lebih besar masih berupa kekhawatiran dan belum menjadi kesimpulan yang terkonfirmasi.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi pelaku usaha ritel bahwa perlindungan keamanan siber tidak cukup hanya diterapkan pada komputer kantor, situs web, atau sistem pembayaran. Perangkat pengendali suhu, sensor, jaringan operasional, dan sistem elektronik lain yang terhubung juga perlu mendapat perhatian. Pengamanan akses jarak jauh, pembaruan perangkat lunak, pemantauan aktivitas yang tidak biasa, serta pemisahan jaringan berdasarkan fungsi dapat membantu mengurangi risiko gangguan yang menjalar ke sistem penting lainnya.
Selain pemulihan teknis, pengelola supermarket perlu memastikan prosedur pemeriksaan keamanan pangan dijalankan secara ketat setelah terjadi perubahan suhu yang tidak normal. Produk yang kondisi penyimpanannya diragukan tidak seharusnya kembali dijual hanya karena tampilan fisiknya masih terlihat baik. Pemeriksaan dan penanganan sesuai prosedur diperlukan untuk melindungi konsumen sekaligus mencegah kerugian lanjutan akibat peredaran bahan makanan yang tidak aman.
Serangan terhadap jaringan supermarket di Eropa tersebut menunjukkan bahwa keamanan teknologi dan kelangsungan operasional bisnis semakin sulit dipisahkan. Gangguan pada satu sistem pengendali dapat memicu kerusakan barang, menghambat pelayanan, dan menimbulkan kerugian finansial dalam waktu relatif singkat. Investigasi yang dilakukan jaringan supermarket terdampak diharapkan dapat memperjelas penyebab insiden, mengidentifikasi kelemahan yang dimanfaatkan, serta menjadi dasar untuk memperkuat perlindungan sistem operasional ke depan.
Jurnalis : Wulandari
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !