Aktivitas perdagangan di Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan, menghadapi kondisi yang semakin memprihatinkan. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pengunjung pasar disebut terus mengalami penurunan. Situasi tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan para pedagang yang menggantungkan kehidupan dari aktivitas jual beli setiap hari.
Sejumlah pedagang mengaku harus menghadapi penurunan omzet yang cukup tajam dibandingkan kondisi pada masa sebelumnya. Pasar yang dahulu ramai oleh pembeli kini terlihat jauh lebih lengang. Kondisi tersebut membuat sebagian pedagang kesulitan mempertahankan usaha, sementara sejumlah kios lainnya memilih berhenti beroperasi karena tidak lagi mampu menanggung biaya operasional.
Salah satu pedagang yang merasakan perubahan tersebut adalah Helmy Samsuddin. Ia telah berjualan perabot rumah tangga dan kompor di Pasar Pondok Labu sejak 1979. Menurutnya, kondisi perdagangan saat ini sangat berbeda dibandingkan masa ketika pasar masih menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat di kawasan tersebut.
Helmy mengatakan, pada sekitar 2005, omzet dagangannya masih dapat mencapai lebih dari Rp10 juta dalam sehari. Saat itu, ia memiliki banyak pelanggan, termasuk para tukang yang membeli barang melalui sistem kredit. Namun, kondisi tersebut kini berubah drastis. Dalam beberapa tahun terakhir, pendapatannya menurun dan saat ini berada di kisaran Rp1 juta hingga Rp2 juta per hari.
Menurut Helmy, penurunan aktivitas perdagangan semakin terasa dalam sekitar tiga tahun terakhir. Perubahan kebiasaan masyarakat dalam berbelanja menjadi salah satu faktor yang dinilai memberikan tekanan terhadap pedagang pasar tradisional. Kehadiran berbagai platform perdagangan daring membuat konsumen memiliki lebih banyak pilihan untuk membeli kebutuhan tanpa harus datang langsung ke pasar.
Perubahan pola belanja tersebut kemudian berpengaruh terhadap jumlah pengunjung Pasar Pondok Labu. Pedagang yang sebelumnya mengandalkan pembeli yang datang secara langsung kini harus menghadapi persaingan dengan transaksi digital yang semakin mudah diakses masyarakat.
Sepinya aktivitas perdagangan juga terlihat dari kondisi sejumlah kios di dalam pasar. Berdasarkan pengamatan pedagang, terdapat banyak kios yang sudah tidak lagi digunakan untuk berjualan. Sebagian bahkan dialihfungsikan menjadi tempat penyimpanan barang atau gudang karena tidak lagi digunakan sebagai tempat usaha.
Di area lantai dasar atau basement, misalnya, terdapat sekitar 26 kios yang disebut telah tutup. Selain itu, sekitar 12 hingga 15 kios lainnya kini digunakan sebagai gudang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penurunan aktivitas perdagangan tidak hanya berdampak terhadap omzet, tetapi juga terhadap keberlangsungan usaha para pemilik kios.
Keadaan serupa juga terlihat di lantai lainnya. Pedagang menyebut jumlah kios yang masih aktif semakin terbatas. Beberapa jenis pedagang yang sebelumnya mudah ditemui, seperti penjual sayur dan ikan, kini semakin sulit ditemukan karena sebagian sudah tidak lagi membuka lapak.
Kondisi pasar yang semakin sepi juga membuat suasana perdagangan berubah. Aktivitas jual beli yang seharusnya menjadi denyut utama pasar tradisional kini tidak seramai sebelumnya. Pedagang yang masih bertahan harus berusaha mempertahankan pelanggan sekaligus menyesuaikan diri dengan perubahan kebiasaan konsumen.
Keluhan mengenai turunnya omzet juga disampaikan Firdaus, salah seorang pedagang yang menjalankan usaha makanan dan minuman di kawasan Pasar Pondok Labu. Ia mengatakan, jumlah pengunjung yang datang ke pasar semakin berkurang sehingga pendapatan hariannya ikut terdampak.
Saat ini, omzet Firdaus terkadang hanya berada di kisaran Rp500 ribu hingga Rp600 ribu per hari. Angka tersebut jauh berbeda dibandingkan kondisi sebelum pandemi Covid-19. Pada masa tersebut, omzet usahanya masih dapat mencapai sekitar Rp45 juta hingga Rp60 juta dalam satu bulan.
Menurut Firdaus, kondisi pasar saat ini tidak banyak berubah meskipun memasuki hari libur. Jumlah pengunjung tetap rendah sehingga peluang pedagang untuk meningkatkan penjualan juga semakin terbatas. Bagi pedagang kecil, keadaan tersebut menjadi tantangan serius karena pemasukan harian sangat bergantung pada jumlah pembeli.
Penurunan omzet secara terus-menerus membuat para pedagang harus melakukan berbagai penyesuaian. Mereka harus mengurangi pengeluaran, mengatur kembali stok barang, dan mempertimbangkan strategi untuk mempertahankan pelanggan yang masih berbelanja secara langsung di pasar.
Di tengah kondisi tersebut, para pedagang berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memberikan perhatian lebih terhadap keberlangsungan Pasar Pondok Labu. Mereka menginginkan adanya langkah nyata untuk kembali meningkatkan daya tarik pasar sehingga masyarakat mau kembali berbelanja secara langsung.
Pedagang menilai keberadaan pasar tradisional bukan hanya berkaitan dengan kegiatan ekonomi, tetapi juga menjadi tempat masyarakat memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari. Jika jumlah kios yang tutup terus bertambah dan jumlah pengunjung semakin menurun, keberadaan pasar sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat dikhawatirkan semakin tergerus.
Upaya menghidupkan kembali pasar dapat dilakukan melalui berbagai langkah, termasuk pembenahan fasilitas, peningkatan kenyamanan pengunjung, promosi pasar, serta membantu pedagang beradaptasi dengan perubahan pola belanja masyarakat. Pemanfaatan teknologi digital juga dapat menjadi salah satu pilihan agar pedagang pasar tradisional mampu menjangkau konsumen yang lebih luas.
Para pedagang berharap kondisi Pasar Pondok Labu tidak dibiarkan semakin memburuk. Mereka ingin pasar kembali ramai sehingga usaha yang telah dijalankan selama bertahun-tahun dapat terus bertahan. Bagi sebagian pedagang, pasar tersebut bukan sekadar tempat mencari keuntungan, melainkan sumber penghasilan utama bagi keluarga.
Kondisi Pasar Pondok Labu menjadi gambaran mengenai tantangan yang dihadapi pasar tradisional di tengah perubahan gaya hidup dan perkembangan perdagangan digital. Persaingan yang semakin luas membuat pedagang dituntut untuk beradaptasi, sementara dukungan pengelola dan pemerintah tetap diperlukan agar pasar tradisional dapat bertahan dan berkembang.
Harapan para pedagang kini tertuju pada adanya perhatian dan kebijakan yang mampu mengembalikan aktivitas perdagangan. Dengan meningkatnya jumlah pengunjung, mereka berharap omzet dapat kembali membaik dan kios-kios yang selama ini tutup perlahan dapat kembali digunakan untuk kegiatan usaha.
Jurnalis : Ghazy fikri izdihar
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !