Divonis 10 Tahun, Siska Berkarya Lewat Batik di Lapas Perempuan Bandung

Siska Kini Berkarya Lewat Batik di Lapas Perempuan Bandung

Divonis 10 Tahun, Siska Berkarya Lewat Batik di Lapas Perempuan Bandung

Siska, seorang warga binaan di Lapas Perempuan Bandung, memilih mengisi masa pembinaannya dengan kegiatan produktif. Di tengah masa hukuman yang harus dijalaninya selama 10 tahun, Siska kini aktif berkarya melalui kegiatan membatik dan menghasilkan berbagai produk kerajinan yang memiliki nilai seni sekaligus nilai ekonomi.

Kegiatan membatik tersebut menjadi salah satu bentuk pembinaan yang diberikan kepada warga binaan di Lapas Perempuan Bandung. Melalui pelatihan keterampilan, para warga binaan diberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang dapat menjadi bekal ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat.

Bagi Siska, aktivitas membatik tidak sekadar menjadi kegiatan untuk mengisi waktu selama berada di dalam lapas. Proses membuat batik juga memberikan ruang untuk menyalurkan kreativitas dan menghasilkan karya yang dapat diapresiasi oleh masyarakat. Dari kegiatan tersebut, ia belajar mengenai proses pembuatan motif, pewarnaan, hingga menghasilkan kain batik yang siap digunakan.

Program pembinaan keterampilan seperti membatik menjadi bagian dari upaya lembaga pemasyarakatan dalam memberikan pembekalan kepada warga binaan. Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasa percaya diri sekaligus membuka peluang bagi mereka untuk memiliki keterampilan yang bisa dikembangkan setelah menyelesaikan masa pidana.

Selain membatik, warga binaan di Lapas Perempuan Bandung juga mendapatkan berbagai bentuk pembinaan lainnya. Program tersebut dirancang agar warga binaan tidak hanya menjalani masa hukuman, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri dan mengembangkan kemampuan sesuai minat serta potensi masing-masing.

Karya yang dihasilkan dari kegiatan pembinaan juga menjadi bukti bahwa keterbatasan ruang dan keadaan tidak selalu menghalangi seseorang untuk tetap berkarya. Dengan pendampingan yang tepat, warga binaan dapat menghasilkan produk yang memiliki nilai seni dan berpotensi memberikan manfaat secara ekonomi.

Bagi Siska, perjalanan selama menjalani hukuman menjadi kesempatan untuk mempelajari keterampilan baru. Aktivitas membatik memberikan pengalaman yang dapat menjadi bekal ketika dirinya kembali menjalani kehidupan di luar lembaga pemasyarakatan. Keterampilan tersebut diharapkan dapat dikembangkan menjadi kegiatan usaha secara mandiri maupun bersama kelompok.

Pembinaan berbasis keterampilan juga memiliki tujuan yang lebih luas, yakni mendukung proses reintegrasi sosial. Warga binaan diharapkan dapat kembali ke masyarakat dengan membawa perubahan positif, memiliki kemampuan yang berguna, serta mampu menjalani kehidupan secara lebih mandiri.

Kisah Siska menjadi gambaran bahwa proses menjalani masa pidana dapat diisi dengan kegiatan yang membangun. Melalui karya batik, ia menunjukkan semangat untuk terus belajar dan menghasilkan sesuatu yang positif meskipun sedang menjalani masa hukuman yang panjang.

Program pembinaan seperti ini diharapkan terus dikembangkan agar semakin banyak warga binaan memperoleh kesempatan untuk mengasah keterampilan. Dengan dukungan pembimbing, fasilitas, dan kesempatan untuk memasarkan hasil karya, kegiatan tersebut dapat menjadi bagian penting dalam mempersiapkan warga binaan menghadapi kehidupan setelah bebas.

Jurnalis : Danilo Fernandes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !