Fenomena fatherless country kembali menjadi perhatian setelah berbagai kalangan menilai bahwa persoalan tersebut tidak hanya dipicu oleh penggunaan gawai atau teknologi digital yang berlebihan, tetapi juga oleh semakin minimnya keterlibatan ayah dalam proses pengasuhan anak. Para pakar menegaskan bahwa kehadiran seorang ayah bukan sekadar sebagai pencari nafkah, melainkan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter, kesehatan mental, serta perkembangan emosional anak sejak usia dini.
Dalam berbagai kajian mengenai pengasuhan keluarga, istilah fatherless tidak selalu berarti seorang anak kehilangan ayah karena meninggal dunia atau perceraian. Kondisi tersebut juga dapat terjadi ketika sosok ayah hadir secara fisik di dalam keluarga, namun tidak terlibat aktif dalam mendidik, berkomunikasi, maupun membangun kedekatan emosional dengan anak. Akibatnya, anak tumbuh tanpa memperoleh figur ayah yang mampu menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut dinilai menjadi salah satu tantangan besar dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.
Sejumlah pakar menjelaskan bahwa penggunaan gawai secara berlebihan memang dapat memperburuk hubungan dalam keluarga, tetapi bukan menjadi penyebab utama munculnya fenomena fatherless. Akar persoalan justru terletak pada pola pengasuhan yang masih menempatkan tanggung jawab mengasuh anak hampir sepenuhnya kepada ibu. Budaya tersebut menyebabkan banyak ayah lebih fokus pada pekerjaan dan urusan ekonomi sehingga waktu berkualitas bersama anak menjadi sangat terbatas. Dalam kondisi tertentu, meskipun tinggal serumah, komunikasi antara ayah dan anak hanya berlangsung sangat singkat setiap harinya.
Selain faktor budaya, mobilitas pekerjaan juga menjadi penyebab meningkatnya risiko fatherless. Tidak sedikit ayah yang harus bekerja di luar kota, luar pulau, bahkan luar negeri dalam waktu yang cukup lama. Kondisi tersebut mengurangi intensitas interaksi dengan anak sehingga proses pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kedekatan emosional tidak berjalan secara optimal. Di sisi lain, tingginya angka perceraian juga menjadi faktor yang memperbesar jumlah anak yang tumbuh tanpa pendampingan ayah secara langsung.
Para pemerhati keluarga menilai bahwa perkembangan teknologi hanya menjadi faktor pendukung yang memperlebar jarak komunikasi dalam keluarga. Ketika orang tua maupun anak sama-sama lebih banyak menghabiskan waktu dengan telepon genggam dibandingkan berinteraksi secara langsung, hubungan emosional menjadi semakin renggang. Oleh sebab itu, penggunaan teknologi perlu diimbangi dengan komunikasi yang sehat serta pembagian waktu yang seimbang antara pekerjaan, aktivitas digital, dan kehidupan keluarga.
Kurangnya peran ayah dalam proses pengasuhan dapat memberikan dampak yang cukup luas terhadap tumbuh kembang anak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang minim mendapatkan perhatian dan pendampingan ayah berisiko mengalami rendahnya rasa percaya diri, kesulitan mengendalikan emosi, menurunnya prestasi belajar, hingga munculnya berbagai persoalan perilaku ketika memasuki usia remaja. Kehadiran ayah juga dinilai penting dalam membangun keberanian, kemampuan mengambil keputusan, serta membentuk karakter yang mandiri dan bertanggung jawab.
Pemerintah melalui berbagai program pembangunan keluarga terus mendorong peningkatan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Edukasi mengenai pola asuh yang seimbang, penguatan ketahanan keluarga, serta peningkatan literasi pengasuhan menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan keluarga yang lebih harmonis. Berbagai pihak berharap paradigma lama yang menempatkan ayah hanya sebagai pencari nafkah dapat berubah sehingga kedua orang tua memiliki peran yang sama penting dalam mendidik anak.
Para ahli juga mengingatkan bahwa membangun kedekatan dengan anak tidak selalu membutuhkan waktu yang panjang, tetapi memerlukan kualitas interaksi yang baik. Meluangkan waktu untuk berbicara, bermain, mendampingi belajar, maupun mendengarkan cerita anak dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan psikologis mereka. Hubungan yang hangat antara ayah dan anak diyakini mampu membentuk keluarga yang lebih kuat sekaligus mengurangi berbagai persoalan sosial di masa mendatang.
Fenomena fatherless country menjadi pengingat bahwa pembangunan generasi masa depan tidak hanya bergantung pada pendidikan formal maupun kemajuan teknologi. Kehadiran orang tua, khususnya figur ayah yang aktif, peduli, dan terlibat dalam setiap tahapan kehidupan anak merupakan fondasi penting dalam menciptakan generasi yang sehat, berkarakter, serta mampu menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Jurnalis : Hanadia
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !