JAKARTA, 25 April 2026 – Konsep Mandala Nusantara hadir menawarkan sebuah kerangka berpikir baru dalam memahami Asia Tenggara bukan sekadar sebagai kumpulan negara-bangsa modern yang terpisah, melainkan sebagai sebuah ruang historis yang saling terhubung melalui jaringan maritim yang masif.
Secara historis, konektivitas ini memiliki dasar yang sangat kuat. Kitab Negarakretagama abad ke-14 mencatat luasnya cakupan pengaruh Majapahit yang menjangkau hingga ke wilayah timur Nusantara, termasuk Pulau Timor dan Onin di Papua Barat.
Sumber-sumber Tiongkok kuno seperti Zhu Fan Zhi pun menggambarkan kawasan ini sebagai simpul vital dalam jalur perdagangan samudra yang menghubungkan India dan Tiongkok.
Dalam perspektif akademis modern, hal ini sejalan dengan maritime network theory, yang menempatkan laut bukan sebagai sekat pemisah, melainkan sebagai ruang integrasi.
Kerajaan maritim seperti Sriwijaya lebih tepat dipahami sebagai nodal system atau pusat-pusat kekuasaan yang saling terhubung melalui perdagangan dan diplomasi, bukan negara teritorial dengan batas kaku seperti masa kini.
Konsep ini selaras dengan teori mandala, di mana kekuasaan bersifat konsentris, cair, dan berbasis pengaruh, bukan batas administratif tetap.
Sayangnya, era kolonialisme memutus jaringan historis tersebut melalui pembatasan teritorial yang memecah belah ruang maritim yang utuh. Namun, jejak konektivitas itu tetap hidup dalam perdagangan, migrasi, dan akar budaya Austronesia hingga kini.
IKN Sebagai Platform Simbolik
Dalam konteks pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), terdapat potensi besar untuk merekonstruksi imajinasi Mandala tersebut. IKN dapat dijadikan sebagai wadah kultural untuk menghidupkan kembali kesadaran keterhubungan kawasan melalui gagasan Festival Mandala Nusantara.
Festival ini dirancang bukan sekadar seremoni, melainkan ruang epistemik yang menyatukan sejarah, teori, dan masa depan, yang dibangun dalam lima lapisan utama:
1. Pameran Konektivitas Maritim: Memvisualisasikan jalur-jalur perdagangan dan peradaban masa lalu.
2. Pavilion Kawasan: Melibatkan partisipasi negara-negara ASEAN dan Pasifik Barat, termasuk Papua New Guinea sebagai bagian dari rumpun Austronesia.
3. Festival Kapal Tradisional: Merekonstruksi sejarah mobilitas laut yang menjadi nadi peradaban.
4. Pasar Rempah dan Ekonomi Serumpun: Menampilkan kesinambungan ekonomi historis yang masih relevan.
5. Seni dan Budaya: Mempertemukan kekayaan musik tradisional dari gamelan, kulintang, Melayu, hingga Melanesia dalam kolaborasi kontemporer yang melambangkan harmoni.
Melalui pendekatan ini, IKN tidak diposisikan sebagai pusat dominasi baru, melainkan sebagai medium untuk menghidupkan kembali logika bahwa Nusantara dan Asia Tenggara sejak awal adalah sebuah sistem yang saling terhubung, menyatu, dan berkelindan.
Reporter by STR
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !