A
JAKARTA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Paparan kabut asap yang dihasilkan dari kebakaran tersebut menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu sistem pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti bayi, balita, anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat jumlah kumulatif kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla mencapai 306.309 kasus hingga pertengahan Oktober 2026. Data tersebut menunjukkan bahwa dampak kebakaran tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga telah menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan penanganan secara serius dan berkelanjutan.
Dari keseluruhan kasus yang tercatat, anak-anak dan balita menjadi kelompok yang mendapat perhatian khusus. Berdasarkan data Kemenkes yang dilaporkan pada 19 Oktober 2026, terdapat 77.022 kasus ISPA pada kelompok anak usia 6–9 tahun dan 69.015 kasus pada balita berusia 0–5 tahun. Sementara itu, kelompok lanjut usia juga mencatat puluhan ribu kasus, dengan jumlah mencapai 49.680 kasus.
Besarnya jumlah kasus tersebut memperlihatkan bahwa paparan asap karhutla menjadi ancaman yang tidak dapat diabaikan. Anak-anak memiliki kebutuhan perlindungan khusus karena masih berada dalam masa pertumbuhan. Kondisi udara yang tercemar dapat mengganggu kenyamanan bernapas, memicu batuk, serta memperburuk gangguan pernapasan yang sudah dialami sebelumnya.
Asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan mengandung partikel halus serta berbagai zat pencemar yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Paparan dalam kondisi kualitas udara yang buruk dapat memicu keluhan kesehatan, seperti batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas, hingga memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru lainnya.
Bayi dan balita menjadi kelompok yang membutuhkan perhatian lebih karena kemampuan mereka untuk menyampaikan keluhan masih terbatas. Oleh sebab itu, orang tua perlu memperhatikan perubahan kondisi kesehatan anak, terutama ketika lingkungan tempat tinggal mulai diselimuti kabut asap atau menunjukkan penurunan kualitas udara.
Gejala seperti batuk berkepanjangan, napas yang lebih cepat dari biasanya, kesulitan bernapas, serta kesulitan menyusu atau minum perlu diwaspadai. Apabila anak menunjukkan tanda gangguan pernapasan, orang tua disarankan segera mencari pertolongan tenaga medis agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
Risiko kesehatan akibat kabut asap juga tidak selalu berhenti ketika kebakaran mulai mereda. Partikel pencemar yang masih berada di udara dapat terus memengaruhi masyarakat selama kualitas udara belum kembali membaik. Karena itu, pemantauan kondisi lingkungan dan kesehatan warga perlu dilakukan secara berkesinambungan, khususnya di daerah yang mengalami kebakaran berulang.
Menghadapi peningkatan kasus ISPA, Kementerian Kesehatan bersama pemerintah daerah terus memperkuat upaya penanganan kesehatan di wilayah terdampak. Langkah tersebut mencakup pemantauan perkembangan penyakit, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, penyaluran logistik medis, serta penguatan layanan bagi masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Kemenkes juga mendorong agar fasilitas kesehatan di daerah terdampak mampu memenuhi kebutuhan pemeriksaan dan pengobatan masyarakat. Ketersediaan obat-obatan, peralatan medis, tenaga kesehatan, serta akses terhadap udara yang lebih bersih menjadi bagian penting dalam mendukung penanganan warga.
Dalam laporan yang diterbitkan pada 19 Oktober 2026, pemerintah turut meningkatkan dukungan logistik kesehatan untuk daerah terdampak. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta tambahan 500 ribu masker untuk setiap provinsi terdampak, disertai penyediaan konsentrator oksigen dan obat-obatan yang disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
Pemerintah juga mendorong penguatan layanan kesehatan di puskesmas, termasuk penyediaan fasilitas rumah oksigen sesuai kebutuhan daerah. Upaya tersebut diharapkan membantu masyarakat memperoleh layanan yang diperlukan selama kondisi kabut asap masih mengganggu aktivitas dan kesehatan warga.
Meski demikian, keberhasilan penanganan tidak hanya bergantung pada ketersediaan fasilitas medis. Koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat juga diperlukan agar bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran. Pemantauan kelompok rentan harus menjadi prioritas, terutama di wilayah dengan tingkat paparan asap yang tinggi.
Masyarakat yang tinggal di daerah terdampak diimbau untuk membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Apabila memungkinkan, kegiatan belajar, bekerja, dan aktivitas lainnya dapat dilakukan di dalam ruangan dengan kualitas udara yang lebih baik.
Jika harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang dengan benar dapat membantu mengurangi paparan partikel halus. Namun, perlindungan bayi dan balita sebaiknya mengutamakan upaya mengurangi paparan asap serta memastikan mereka berada di lingkungan dengan udara yang lebih bersih. Masker tidak boleh dijadikan satu-satunya langkah perlindungan bagi kelompok usia tersebut.
Orang tua juga perlu memastikan anak mendapatkan istirahat yang cukup, asupan makanan bergizi, dan cairan yang memadai. Apabila kualitas udara di sekitar rumah memburuk, keluarga sebaiknya mengurangi kegiatan yang berpotensi meningkatkan paparan asap, termasuk aktivitas fisik di luar ruangan.
Selain itu, masyarakat perlu mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara dan perkembangan penanganan karhutla dari instansi terkait. Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan aktivitas sehari-hari, terutama bagi keluarga yang memiliki bayi, balita, lansia, atau anggota keluarga dengan gangguan pernapasan.
Besarnya jumlah kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla menjadi pengingat bahwa kebakaran hutan dan lahan memiliki konsekuensi yang luas. Selain merusak ekosistem dan mengganggu kegiatan ekonomi, kabut asap juga dapat memengaruhi kesehatan masyarakat, termasuk anak-anak yang sedang berada dalam tahap penting pertumbuhan dan perkembangan.
Perlindungan terhadap anak tidak cukup dilakukan melalui pengobatan setelah gangguan kesehatan muncul. Upaya pencegahan perlu diperkuat melalui pengendalian kebakaran, pemantauan kualitas udara, penyediaan lingkungan yang lebih aman, serta akses pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau oleh masyarakat terdampak.
Pemerintah pusat dan daerah juga perlu memastikan bahwa penanganan karhutla berjalan beriringan dengan upaya perlindungan kesehatan. Pemadaman kebakaran, pencegahan munculnya titik api baru, dan pemulihan lingkungan merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko paparan asap dalam jangka panjang.
Di sisi lain, keterbukaan informasi mengenai jumlah kasus, wilayah terdampak, serta kebutuhan layanan kesehatan diperlukan agar penanganan dapat dilakukan berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Data yang diperbarui secara berkala juga membantu pemerintah menentukan prioritas bantuan dan mengidentifikasi kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian lebih besar.
Dengan meningkatnya perhatian terhadap dampak kesehatan akibat karhutla, penanganan bencana diharapkan tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga menjamin keselamatan masyarakat. Perlindungan bayi, balita, dan anak-anak perlu ditempatkan sebagai bagian utama dari upaya penanggulangan agar mereka dapat tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan aman.
Karhutla merupakan persoalan yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Penguatan pencegahan, kesiapan layanan kesehatan, dan kesadaran masyarakat dalam mengurangi paparan asap menjadi langkah penting untuk menekan dampaknya. Dengan kerja sama yang konsisten, risiko gangguan kesehatan di wilayah terdampak diharapkan dapat dikurangi sekaligus memperkuat perlindungan bagi kelompok paling rentan.
Jurnalis : Rizki Ahmad Noviyandi
“`
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !