Bencana Sumatera: Krisis Kemanusiaan Berisiko Jadi Krisis Legitimasi

JAKARTA – Bencana banjir di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh yang berlangsung sebulan ini mulai menunjukkan tanda-tanda transformasi risiko serius.

Kajian Deep Intelligence Research (DIR) menunjukkan 28% sentimen negatif di media terkait keterlambatan bantuan dan dampak pascabencana, di tengah 69% pemberitaan positif.

Puncak sentimen negatif terjadi pada 1 Desember 2025, saat bencana banjir bandang.

“Namun, muncul anomali pada 19 Desember, sentimen negatif melonjak karena bantuan belum merata dan update korban di wilayah terisolir,” kata Neni Nur Hayati, Direktur Komunikasi DIR.

Media coverage mencapai 30.489, dengan 55.600 unggahan di media sosial dan lebih dari 2 juta interaksi. Tiktok dan Instagram jadi platform paling viral.

Tiga klaster percakapan publik: kemanusiaan, gugatan sistemik (eksploitasi hutan/tambang), dan eskalasi politik (kritik ke pemerintah). Muncul narasi disintegrasi di Aceh dan Nias, berpotensi mengancam stabilitas nasional.

“Bencana jangan sampai jadi krisis legitimasi,” tegas Neni. ( Red )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya
Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !