Kalimantan Berduka Dilanda Karhutla, Api Meluas di Tanjung Puting dan Kabut Asap Ancam Kesehatan Warga

Kalimantan Berduka Dilanda Karhutla, Api Meluas di Tanjung Puting dan Kabut Asap Ancam Kesehatan Warga

JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan masih menjadi persoalan serius. Kobaran api yang belum sepenuhnya padam, terutama di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, memicu kekhawatiran terhadap kelestarian lingkungan dan keselamatan masyarakat. Di sisi lain, kabut asap tebal yang menyelimuti sejumlah daerah juga mengganggu aktivitas warga, membatasi jarak pandang pengendara, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Salah satu wilayah yang mendapat perhatian adalah Taman Nasional Tanjung Puting, yang berada di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Kebakaran di kawasan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas karena lokasi titik api tersebar, akses menuju area terdampak terbatas, dan karakteristik lahan menyulitkan proses pemadaman. Kondisi ini membuat penanganan membutuhkan dukungan personel, peralatan, serta koordinasi lintas instansi.

Kementerian Kehutanan menyatakan upaya pemadaman masih terus diintensifkan. Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, mengatakan pihaknya memahami beratnya kondisi yang dihadapi petugas dan relawan di lapangan. Luas wilayah terdampak, sulitnya menjangkau titik api, serta kondisi lahan yang mudah menyimpan bara menjadi sejumlah hambatan dalam penanganan karhutla.

Situasi tersebut turut memicu kekecewaan sejumlah relawan yang selama ini membantu pemadaman. Relawan dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) di Kotawaringin Barat menyampaikan keputusan untuk menarik diri dari kegiatan pemadaman di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Melalui pernyataan di media sosial, mereka mengungkapkan bahwa upaya yang telah dilakukan dinilai belum mendapatkan dukungan maksimal, meskipun para relawan telah mengerahkan kemampuan untuk membantu mengatasi kebakaran.

Menanggapi kondisi tersebut, Kementerian Kehutanan menjelaskan bahwa permohonan dukungan pemadaman melalui udara telah diajukan sejak 9 September 2026. Operasi water bombing atau penyiraman air dari udara sempat dilakukan pada 20–22 September 2026. Namun, kebakaran belum sepenuhnya terkendali sehingga upaya penanganan perlu dilanjutkan melalui berbagai metode sesuai kondisi lapangan.

Pihak Taman Nasional Tanjung Puting kembali mengajukan permohonan operasi pemadaman udara pada 2 Oktober 2026 untuk wilayah Kotawaringin Barat dan Seruyan. Surat susulan kemudian disampaikan pada 9 Oktober 2026, dengan tambahan sasaran di sekitar Pos Tanjung Harapan, Resor Pesalat. Kementerian Kehutanan menyebut koordinasi dengan instansi terkait terus dilakukan untuk memastikan dukungan udara dapat dilaksanakan ketika kondisi operasional memungkinkan.

Salah satu kendala utama dalam penggunaan helikopter adalah kabut asap yang sangat tebal. Jarak pandang yang terbatas dapat membahayakan keselamatan penerbangan, sehingga pelaksanaan pemadaman dari udara harus mempertimbangkan kondisi cuaca dan visibilitas. Karena itu, penanganan melalui jalur darat tetap menjadi bagian penting dari strategi pemadaman, terutama di lokasi yang masih dapat dijangkau petugas.

Besarnya kebakaran di Tanjung Puting juga menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto. Dalam rapat perkembangan penanganan karhutla yang dipimpinnya secara hibrida dari Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (12/10/2026), Prabowo menegaskan bahwa kawasan taman nasional harus dijaga secara serius. Pemerintah menilai perlindungan kawasan konservasi penting karena kebakaran tidak hanya merusak vegetasi, tetapi juga mengancam habitat satwa liar.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, dalam rapat tersebut melaporkan adanya kebakaran baru di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting dengan luas sekitar 513,89 hektare. Penanganan dilakukan melalui penguatan satuan tugas darat, penambahan personel, dan dukungan peralatan. Meskipun kawasan yang terbakar disebut berupa lahan mineral, luas area terdampak tetap membutuhkan penanganan segera agar api tidak meluas lebih jauh.

Dalam laporan yang disampaikan kepada Presiden, Suharyanto menyebut total luas karhutla yang masih ditangani satuan tugas di enam provinsi mencapai 639,23 hektare. Wilayah prioritas tersebut meliputi Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau. Dari wilayah-wilayah tersebut, Kalimantan Tengah mencatat area kebakaran terbesar dalam laporan yang disampaikan, terutama akibat munculnya titik api baru di Taman Nasional Tanjung Puting.

Untuk memperkuat pemadaman, Presiden Prabowo menyetujui penambahan peralatan yang dibutuhkan petugas di lapangan. Pangdam XXII/Tambun Bungai, Mayjen TNI Zainul Arifin, melaporkan bahwa lokasi kebakaran tersebar di kawasan rawa dan sulit dijangkau kendaraan. Petugas membutuhkan pompa air berukuran kecil agar proses pengambilan dan penyaluran air dapat dilakukan lebih efektif di sekitar titik api.

Ketika Pangdam menyampaikan kebutuhan sekitar 50 pompa air, Prabowo memutuskan memberikan dukungan sebanyak 200 unit. Selain itu, pemerintah juga menyetujui dukungan untuk pembangunan 200 titik bor air dengan anggaran Rp2 miliar. Fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu menyediakan sumber air bagi petugas, khususnya di wilayah yang memiliki akses terbatas dan membutuhkan penanganan kebakaran secara intensif.

Presiden juga menekankan pentingnya penguatan polisi hutan untuk menjaga kawasan hutan di Indonesia. Ia meminta agar kebutuhan personel dan peningkatan kapasitas pengamanan hutan dibahas bersama kementerian terkait. Prabowo turut meminta Kepolisian Negara Republik Indonesia membantu pelatihan polisi hutan agar kemampuan personel dalam menjaga kawasan konservasi dan mencegah kebakaran dapat ditingkatkan secara bertahap.

Dampak karhutla tidak hanya dirasakan di kawasan hutan. Di Kalimantan Selatan, kabut asap tebal menyelimuti Jalan Liang Anggang, Banjarbaru, sehingga mengganggu jarak pandang pengendara. Berdasarkan pantauan di lokasi pada Selasa (13/10/2026), asap pekat membuat pengguna jalan kesulitan melihat kendaraan dari arah berlawanan. Situasi tersebut meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi pengendara yang melintas ketika jarak pandang menurun.

Sejumlah pengendara memilih melaju dengan kecepatan sekitar 30–40 kilometer per jam untuk mengurangi risiko kecelakaan. Lampu kendaraan dinyalakan agar keberadaan kendaraan lebih mudah diketahui pengguna jalan lain. Namun, penggunaan helm dan masker belum sepenuhnya menghalangi asap masuk ke saluran pernapasan. Sebagian pengendara juga mengeluhkan mata perih dan ketidaknyamanan saat berkendara di tengah kabut asap.

Seorang pengendara bernama Rian mengatakan kondisi asap pada pagi hari sekitar pukul 07.25 Wita sangat mengganggu aktivitas perjalanan. Ia menilai keterbatasan jarak pandang dan gangguan pernapasan membuat pengendara harus lebih berhati-hati. Menurutnya, kelengahan sedikit saja dapat meningkatkan risiko kecelakaan, terutama ketika kendaraan dari arah berlawanan sulit terlihat dengan jelas.

Kekhawatiran serupa disampaikan Firman, warga Banjarbaru, yang mengamati kabut asap semakin tebal dari hari ke hari. Ia mengkhawatirkan kondisi anak-anak yang tetap harus berangkat sekolah seperti biasa, sementara kualitas udara di lingkungan mereka terganggu. Situasi ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan oleh petugas pemadam dan pengguna jalan, tetapi juga keluarga yang menjalankan aktivitas sehari-hari.

Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan juga berpotensi menimbulkan dampak kesehatan yang lebih luas. Paparan asap dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan, serta memperburuk kondisi orang yang memiliki penyakit pernapasan. Kelompok anak-anak, lanjut usia, dan masyarakat dengan gangguan kesehatan tertentu perlu mendapat perhatian khusus ketika kualitas udara memburuk. Karena itu, informasi kualitas udara dan imbauan kesehatan menjadi bagian penting dalam penanganan dampak karhutla.

Masyarakat yang berada di wilayah terdampak diimbau mengikuti arahan pemerintah daerah dan petugas, membatasi aktivitas luar ruangan ketika asap pekat, serta menggunakan pelindung pernapasan yang sesuai jika harus beraktivitas di luar. Pengendara juga perlu menyalakan lampu kendaraan, menjaga jarak aman, dan menghindari perjalanan apabila jarak pandang terlalu terbatas. Sekolah dan fasilitas umum perlu mempertimbangkan kondisi kualitas udara dalam menentukan langkah perlindungan bagi penggunanya.

Penanganan karhutla di Kalimantan membutuhkan kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, petugas pemadam, aparat keamanan, pengelola kawasan konservasi, relawan, dan masyarakat. Penambahan pompa air serta titik bor diharapkan memperkuat kemampuan pemadaman di darat, sementara operasi udara perlu dilakukan dengan memperhatikan keselamatan penerbangan. Evaluasi dukungan terhadap relawan juga menjadi hal yang penting agar upaya penanganan di lapangan berjalan efektif.

Di tengah kebakaran yang masih berlangsung, perlindungan terhadap masyarakat dan kelestarian ekosistem harus berjalan beriringan. Pemerintah menyatakan pemadaman terus dilakukan, sementara dukungan personel dan peralatan diperkuat untuk menangani titik api yang masih aktif. Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada efektivitas koordinasi, kondisi lapangan, dan kemampuan seluruh pihak mencegah api meluas serta mengurangi dampak asap terhadap kehidupan masyarakat.

Jurnalis : Wulandari

author avatar
Wulandari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !