Asap Karhutla Selimuti Papua Barat, Penerbangan Terganggu

Asap Karhutla Selimuti Papua Barat, Jarak Pandang Menurun dan Sejumlah Penerbangan Terganggu

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti sejumlah wilayah di Papua Barat pada Jumat (2/10/2026). Kondisi tersebut menyebabkan penurunan jarak pandang di beberapa kawasan, termasuk di Fakfak dan Manokwari, serta berdampak terhadap aktivitas penerbangan di dua bandara di wilayah tersebut.

Di Fakfak, kabut asap membuat jarak pandang di sekitar Bandara Siboru turun hingga kurang dari 3 kilometer. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah penerbangan mengalami penundaan karena faktor keselamatan penerbangan.

Kepala Unit Pelayanan Bandar Udara Siboru Fakfak, Faisal Rahman, menjelaskan bahwa dua penerbangan Wings Air dengan rute Sorong-Fakfak terdampak kondisi tersebut. Penerbangan pagi yang dijadwalkan berangkat sekitar pukul 07.30 WIT mengalami keterlambatan. Hal serupa terjadi pada penerbangan siang yang dijadwalkan berangkat sekitar pukul 11.30 WIT.

Menurut Faisal, penerbangan baru dapat diproses setelah kondisi kabut asap mulai berkurang menjelang sore hari. Pihak bandara terus memantau perubahan kondisi cuaca dan jarak pandang sebelum memberikan izin untuk keberangkatan maupun kedatangan pesawat.

Kondisi di sekitar Bandara Siboru kemudian menunjukkan perbaikan. Jarak pandang meningkat hingga sekitar 4 kilometer, sementara kecepatan angin berada di kisaran 7 knot. Dengan membaiknya kondisi tersebut, penerbangan dari Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Sorong menuju Bandara Siboru Fakfak kembali diproses.

Bandara Siboru sendiri dijadwalkan melayani lima aktivitas penerbangan pada hari tersebut. Jumlah tersebut terdiri dari dua penerbangan Wings Air dan tiga penerbangan perintis. Otoritas bandara tetap melakukan pemantauan terhadap kondisi atmosfer untuk memastikan penerbangan yang tersisa dapat berlangsung dengan aman.

Jarak Pandang di Manokwari Turun Drastis

Gangguan akibat kabut asap juga terjadi di Bandara Rendani, Manokwari. Kondisi di wilayah tersebut bahkan sempat menyebabkan jarak pandang turun secara drastis hingga sekitar 500 meter. Situasi tersebut berdampak langsung terhadap operasional penerbangan dan membuat sejumlah maskapai harus melakukan penyesuaian terhadap jadwal penerbangannya.

Kepala Unit Pelayanan Bandara Rendani Manokwari, Herman Sujito, mengatakan bahwa penurunan jarak pandang terjadi secara bertahap sejak pagi. Berdasarkan informasi awal yang diterima dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), jarak pandang pada pagi hari masih berada di sekitar 4 kilometer.

Namun, kondisi kemudian memburuk seiring berjalannya waktu. Memasuki sekitar pukul 10.00 hingga 11.00 WIT, jarak pandang di sekitar bandara turun hingga hanya sekitar 500 meter. Kondisi tersebut membuat aktivitas penerbangan harus disesuaikan demi mengutamakan keselamatan penumpang dan awak pesawat.

Herman menjelaskan bahwa jarak pandang yang dibutuhkan untuk pendaratan pesawat di Bandara Rendani berada pada kisaran 4 hingga 4,6 kilometer, tergantung jenis pesawat dan ketentuan operasional yang berlaku. Dengan jarak pandang yang jauh berada di bawah ambang tersebut, penerbangan tidak dapat dilaksanakan secara normal.

Sejumlah Penerbangan Terdampak

Kabut asap yang menurunkan jarak pandang tersebut menyebabkan sejumlah penerbangan di Bandara Rendani terdampak. Maskapai harus melakukan penyesuaian operasional, termasuk menunda maupun mengalihkan penerbangan, untuk mengantisipasi risiko yang dapat muncul akibat kondisi cuaca dan visibilitas yang buruk.

Gangguan penerbangan akibat kabut asap menjadi salah satu dampak langsung dari karhutla yang perlu mendapat perhatian. Selain mengganggu mobilitas masyarakat, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi distribusi barang dan konektivitas antarwilayah, terutama bagi daerah yang sangat bergantung pada transportasi udara.

Papua Barat memiliki karakteristik geografis yang membuat transportasi udara menjadi salah satu sarana penting untuk menghubungkan berbagai wilayah. Karena itu, gangguan operasional bandara dapat memberikan dampak lebih luas apabila kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama.

Otoritas Terus Pantau Kondisi

Pihak pengelola bandara bersama instansi terkait terus memantau perkembangan kondisi udara dan jarak pandang. Pemantauan dilakukan sebagai dasar untuk menentukan apakah penerbangan dapat dilaksanakan, ditunda, atau dialihkan ke lokasi lain.

Keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan operasional penerbangan. Ketika jarak pandang berada pada kondisi yang tidak memenuhi standar keselamatan, penerbangan harus menunggu hingga kondisi kembali memungkinkan.

Kabut asap akibat karhutla juga menjadi pengingat bahwa kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berdampak terhadap lingkungan dan kualitas udara. Dampaknya dapat merambat ke berbagai sektor, mulai dari kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, transportasi, hingga konektivitas antarwilayah.

Dengan kondisi yang masih dapat berubah, masyarakat yang memiliki jadwal penerbangan dari maupun menuju Papua Barat diimbau memperhatikan informasi terbaru dari maskapai dan pengelola bandara. Penyesuaian jadwal dapat dilakukan apabila kondisi jarak pandang kembali mengalami penurunan.

Pemerintah daerah dan instansi terkait juga perlu terus melakukan pemantauan terhadap titik-titik karhutla serta kondisi kualitas udara. Penanganan kebakaran secara cepat menjadi penting untuk mencegah meluasnya asap dan mengurangi dampak terhadap masyarakat maupun aktivitas transportasi di wilayah terdampak.

Jurnalis : Rizki Ahmad Noviyandi

“`

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !