Proyek LRT City yang dikembangkan PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP), anak usaha PT Adhi Karya (Persero) Tbk, dipastikan tetap dilanjutkan. Kepastian tersebut disampaikan Danantara Indonesia setelah sebelumnya mengalokasikan dana sebesar Rp456 miliar untuk mendukung penyelesaian proyek-proyek LRT City yang mengalami berbagai persoalan pembangunan.
Proyek LRT City merupakan pengembangan kawasan hunian yang terintegrasi dengan jaringan transportasi berbasis kereta ringan. Secara keseluruhan, terdapat 12 proyek LRT City yang tersebar di sejumlah wilayah Jabodetabek. Kondisi masing-masing proyek berbeda, mulai dari proyek yang telah memasuki tahap pembangunan hingga proyek yang pengerjaannya masih sangat terbatas.
Sebagian proyek bahkan belum mengalami perkembangan pembangunan yang signifikan dan masih berupa lahan kosong. Kondisi tersebut membuat penyelesaian proyek menjadi tantangan tersendiri, terutama karena terdapat konsumen yang telah membeli unit dan masih menunggu kepastian mengenai kelanjutan pembangunan serta serah terima hunian mereka.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Danantara tidak hanya berencana melanjutkan pembangunan dengan konsep lama. Penataan ulang akan dilakukan secara menyeluruh, termasuk terhadap desain bangunan, konsep kawasan, serta model bisnis yang akan diterapkan pada proyek-proyek tersebut.
Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa keputusan untuk melanjutkan proyek LRT City tidak semata-mata didasarkan pada pertimbangan komersial. Kepentingan konsumen yang telah membeli unit juga menjadi salah satu pertimbangan utama pemerintah dalam mengambil keputusan tersebut.
Menurut Dony, karena proyek tersebut dikembangkan oleh perusahaan yang berada dalam ekosistem BUMN, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan persoalan yang dihadapi konsumen mendapatkan penyelesaian. Oleh karena itu, proses revitalisasi proyek akan dilakukan dengan pendekatan baru agar pembangunan dapat kembali berjalan secara berkelanjutan.
Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah menggunakan jasa firma arsitektur baru. Arsitek tersebut akan dilibatkan untuk menata kembali berbagai aspek proyek, mulai dari tampilan bangunan hingga konsep kawasan secara keseluruhan.
Perubahan tidak hanya menyentuh bagian fisik bangunan. Danantara juga akan mengevaluasi rancangan bisnis yang selama ini diterapkan. Area komersial di dalam kawasan LRT City akan mendapatkan perhatian sehingga nantinya tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap hunian, tetapi juga dapat mendukung aktivitas ekonomi di sekitar kawasan.
Perubahan pada fasad bangunan dan konsep komersial menjadi bagian dari penataan ulang tersebut. Dengan konsep baru, proyek diharapkan memiliki daya tarik yang lebih baik sekaligus mempunyai model bisnis yang dapat mendukung keberlangsungan pengembangan kawasan dalam jangka panjang.
Danantara melihat proyek LRT City masih mempunyai potensi untuk dikembangkan. Salah satu pertimbangannya adalah kepemilikan lahan yang memiliki nilai ekonomi serta lokasi proyek yang berada di kawasan strategis Jabodetabek.
Dengan kondisi tersebut, penyelamatan proyek tidak hanya diarahkan untuk menyelesaikan bangunan yang tertunda. Penataan ulang dilakukan agar aset yang telah tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal dan memiliki nilai ekonomi yang lebih baik.
Pendekatan tersebut membuat proses penyelesaian proyek tidak berhenti pada pembangunan fisik. Konsep bisnis, tata kawasan, kebutuhan konsumen, serta potensi komersial di sekitar hunian juga menjadi bagian dari evaluasi.
Danantara berharap perubahan tersebut dapat menciptakan proyek yang lebih sesuai dengan kondisi pasar sekaligus memberikan kepastian kepada konsumen yang telah membeli unit. Dengan demikian, pembangunan yang sebelumnya berjalan lambat dapat kembali dilanjutkan dengan perencanaan yang lebih matang.
Persoalan LRT City tidak hanya berkaitan dengan pembangunan kawasan, tetapi juga menyangkut ribuan konsumen yang telah melakukan pembelian unit. Berdasarkan pemetaan yang dilakukan Adhi Karya, terdapat sekitar 5.400 unit hunian LRT City yang telah terjual.
Dari jumlah tersebut, sekitar 3.000 unit telah diserahterimakan kepada konsumen. Sementara itu, masih terdapat sekitar 2.400 unit yang belum diserahterimakan karena pembangunan sejumlah proyek mengalami keterlambatan.
Data tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam proses penataan dan penyelesaian proyek. Adhi Karya dan ADCP perlu memastikan status masing-masing konsumen serta perkembangan unit yang telah dibeli agar proses penyelesaian dapat dilakukan secara lebih terarah.
Pendataan konsumen yang terdampak juga menjadi bagian dari pekerjaan yang akan dilakukan. Inventarisasi tersebut diperlukan agar perusahaan memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai jumlah unit yang belum diserahterimakan, kondisi pembangunan, serta persoalan yang dihadapi masing-masing konsumen.
Direktur Utama PT Adhi Karya (Persero) Tbk, Moeharmein Zein Chaniago, sebelumnya menyatakan bahwa perusahaan induk akan ikut mengawal penyelesaian persoalan LRT City. Setelah adanya dukungan dana dari Danantara sebesar Rp456 miliar, Adhi Karya bersama ADCP akan mendorong percepatan pembangunan unit-unit yang mengalami keterlambatan.
Zein menegaskan bahwa penyelesaian proyek harus menjadi perhatian serius agar tidak semakin banyak konsumen yang terdampak. Adhi Karya sebagai perusahaan induk ADCP juga menyampaikan permintaan maaf kepada konsumen atas persoalan yang terjadi dalam proses pengembangan sejumlah proyek LRT City.
Menurutnya, pengawalan dari perusahaan induk diperlukan untuk memastikan proses penyelesaian berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Pengawasan tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan konstruksi, tetapi juga mencakup proses pendataan dan penyelesaian berbagai persoalan konsumen.
Adhi Karya menargetkan proses inventarisasi permasalahan konsumen dapat dilakukan secara menyeluruh. Data tersebut kemudian akan menjadi dasar untuk menentukan langkah penyelesaian masing-masing proyek dan unit yang masih belum diserahterimakan.
Keputusan untuk melanjutkan LRT City menjadi perkembangan penting bagi konsumen yang selama ini menunggu kepastian mengenai nasib hunian mereka. Suntikan dana dan penataan ulang konsep diharapkan dapat menjadi momentum untuk menghidupkan kembali proyek-proyek yang mengalami keterlambatan.
Namun, keberhasilan penyelesaian proyek tetap bergantung pada pelaksanaan di lapangan. Perubahan desain dan model bisnis perlu diikuti dengan perencanaan konstruksi yang jelas, pengawasan ketat, serta komunikasi yang terbuka dengan konsumen.
Dengan adanya dukungan Danantara dan pengawalan dari Adhi Karya, proyek LRT City kini diarahkan untuk tidak sekadar melanjutkan pembangunan yang tertunda, tetapi juga melakukan pembenahan secara menyeluruh. Konsep baru tersebut diharapkan mampu membuat kawasan lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat sekaligus memastikan hak konsumen mendapatkan perhatian dalam proses penyelesaian.
Jurnalis : Rizki Ahmad Noviyandi
“`
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !