Kemampuan tenaga medis di Indonesia dalam mendiagnosis penyakit katup jantung terus mengalami perkembangan. Dari sisi kemampuan diagnosis, Indonesia disebut telah memiliki kapasitas yang dapat disejajarkan dengan negara maju di kawasan seperti Singapura. Namun, kesenjangan masih terlihat pada aspek lain, terutama pemerataan fasilitas kesehatan, ketersediaan tenaga ahli, serta akses masyarakat terhadap pemeriksaan dan penanganan penyakit jantung.
Penyakit katup jantung merupakan salah satu gangguan pada sistem kardiovaskular yang dapat memengaruhi kemampuan jantung dalam mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Gangguan dapat terjadi ketika katup jantung mengalami penyempitan atau tidak dapat menutup dengan sempurna sehingga menyebabkan aliran darah terganggu.
Untuk memastikan kondisi katup jantung, dokter dapat menggunakan sejumlah pemeriksaan penunjang. Salah satu pemeriksaan yang sangat penting adalah ekokardiografi. Pemeriksaan tersebut menggunakan gelombang ultrasonik untuk menghasilkan gambaran mengenai struktur dan fungsi jantung, termasuk kondisi katup. Kementerian Kesehatan menyebut ekokardiografi sebagai salah satu pemeriksaan penting dalam menegakkan diagnosis kelainan jantung.
Selain ekokardiografi, pemeriksaan jantung dapat melibatkan elektrokardiogram atau EKG, CT scan, hingga MRI jantung sesuai kondisi pasien dan kebutuhan dokter. Setiap metode pemeriksaan memiliki fungsi yang berbeda dan dapat digunakan untuk memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai struktur maupun fungsi jantung.
Kemampuan melakukan diagnosis menjadi salah satu bagian penting dalam pelayanan penyakit katup jantung. Namun, diagnosis yang akurat perlu diikuti dengan ketersediaan layanan lanjutan agar pasien dapat memperoleh penanganan sesuai kondisi yang ditemukan.
Kesenjangan pelayanan kesehatan dapat muncul karena distribusi fasilitas dan tenaga medis belum sepenuhnya merata. Masyarakat yang tinggal di kota besar umumnya memiliki akses lebih dekat terhadap rumah sakit dengan fasilitas kardiologi lengkap. Sementara itu, pasien di sejumlah daerah masih dapat menghadapi kendala jarak, keterbatasan fasilitas, maupun ketersediaan dokter spesialis.
Kementerian Kesehatan dalam beberapa tahun terakhir juga mendorong pemerataan layanan jantung melalui penambahan fasilitas kesehatan dan penguatan sumber daya manusia. Pada 2026, Kemenkes menyatakan jumlah dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dengan kompetensi kardiologi intervensi meningkat 3,2 kali lipat dalam enam tahun terakhir. Pemerintah juga memperluas distribusi laboratorium kateterisasi atau cath lab ke berbagai daerah.
Pemeriksaan sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk mengetahui kondisi jantung sebelum gangguan berkembang menjadi lebih berat. Keluhan seperti mudah lelah, sesak napas, nyeri dada, jantung berdebar, atau pembengkakan pada bagian tubuh tertentu dapat menjadi alasan seseorang perlu mendapatkan pemeriksaan medis.
Pada penyakit katup jantung, keluhan yang muncul dapat berbeda-beda bergantung pada jenis dan tingkat gangguan. Karena itu, masyarakat tidak dianjurkan menentukan diagnosis sendiri hanya berdasarkan gejala. Pemeriksaan oleh tenaga medis diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan dan menentukan pemeriksaan lanjutan yang sesuai.
Ekokardiografi dapat membantu dokter melihat kondisi struktur jantung serta menilai fungsi katup. Pemeriksaan tersebut juga dapat membantu mengetahui tingkat gangguan sehingga dokter memiliki dasar dalam menentukan langkah penanganan berikutnya.
Pengembangan layanan penyakit katup jantung di Indonesia juga terus dilakukan melalui peningkatan standar diagnosis dan tata laksana. Kelompok Kerja Katup dan Penyakit Jantung Rematik atau INAVALVE-RHD pada 2026 meluncurkan panduan diagnosis dan tata laksana demam rematik akut serta penyakit jantung rematik. Panduan tersebut ditujukan untuk membantu menyediakan protokol pelayanan yang lebih terstandar dan berbasis bukti.
Penguatan panduan klinis menjadi penting karena penyakit katup jantung memiliki berbagai penyebab dan tingkat keparahan. Salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian adalah penyakit jantung rematik, yang dapat menyebabkan kerusakan pada katup jantung. Pemeriksaan lebih lanjut, termasuk ekokardiografi, dapat membantu dokter menilai tingkat kerusakan yang terjadi.
Dengan meningkatnya kemampuan diagnosis dan bertambahnya fasilitas kesehatan, pelayanan penyakit jantung di Indonesia memiliki peluang untuk semakin berkembang. Namun, tantangan pemerataan masih membutuhkan perhatian agar kemampuan diagnosis yang sudah tersedia tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu.
Ketersediaan dokter spesialis, peralatan medis, rumah sakit rujukan, serta sistem rujukan yang efektif menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Pasien yang telah terdiagnosis membutuhkan akses terhadap layanan lanjutan sesuai tingkat penyakitnya agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Perbandingan kemampuan diagnosis antara Indonesia dan negara lain pada akhirnya tidak hanya dapat dilihat dari kecanggihan alat atau kemampuan dokter. Kualitas pelayanan juga ditentukan oleh seberapa mudah masyarakat memperoleh pemeriksaan, seberapa cepat pasien mendapatkan diagnosis, serta tersedianya penanganan lanjutan setelah penyakit ditemukan.
Karena itu, penguatan layanan jantung perlu dilakukan secara menyeluruh. Pemerataan tenaga kesehatan dan fasilitas medis harus berjalan bersama dengan peningkatan kemampuan diagnosis dan pengembangan pedoman pelayanan. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat di berbagai wilayah memiliki kesempatan yang lebih baik untuk memperoleh layanan jantung yang berkualitas.
Upaya tersebut juga dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan jantung. Pemeriksaan medis yang dilakukan sesuai kebutuhan dan anjuran tenaga kesehatan dapat membantu mendeteksi gangguan jantung lebih awal, sehingga kondisi pasien dapat dievaluasi dan ditangani sesuai kebutuhan medisnya.
Jurnalis : Rizki Ahmad Noviyandi
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !