Pontianak — Kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) masih mengkhawatirkan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kabut asap yang menyelimuti beberapa kawasan membuat jarak pandang turun hingga berada di bawah 1 kilometer.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam penanganan karhutla di Kalimantan Barat. Asap yang cukup tebal tidak hanya berdampak terhadap kualitas udara, tetapi juga mengganggu jarak pandang masyarakat dan aktivitas penanganan di lapangan.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan masih terdapat puluhan titik api yang terpantau di wilayah Kalimantan Barat. Pada 2 September 2026, BNPB mencatat sebanyak 31 titik api masih terdeteksi.
Berdasarkan laporan BNPB, luas lahan yang terbakar hingga 1 September 2026 diperkirakan mencapai lebih dari 511 hektare. Dari luasan tersebut, petugas gabungan telah berhasil melakukan pemadaman pada area lebih dari 135 hektare.
Situasi tersebut menyebabkan kualitas udara di sejumlah daerah berada pada kategori berbahaya. Jarak pandang yang kurang dari satu kilometer menjadi salah satu indikator bahwa konsentrasi asap di beberapa lokasi masih cukup tinggi.
Untuk mengatasi kebakaran, Satgas Darat terus dikerahkan ke berbagai lokasi prioritas. Operasi pemadaman dilakukan di 25 titik yang tersebar di delapan kabupaten dan kota di Kalimantan Barat dengan melibatkan personel serta peralatan dari berbagai unsur.
Penanganan juga dilakukan melalui jalur udara. Empat helikopter water bombing dikerahkan untuk membantu pemadaman di wilayah Mempawah, Ketapang, dan Kubu Raya. Dalam operasi tersebut, sekitar 408 ribu liter air telah dijatuhkan ke area yang terbakar.
Upaya pemadaman dari udara tersebut dilaporkan berhasil membantu mengendalikan kebakaran di area sekitar enam hektare. Selain water bombing, dua armada juga digunakan untuk melakukan patroli udara guna memantau perkembangan titik kebakaran dari atas.
Namun, operasi udara menghadapi tantangan akibat jarak pandang yang rendah. Kabut asap membuat visibilitas menjadi terbatas sehingga petugas harus mempertimbangkan kondisi di lapangan sebelum menjalankan operasi penerbangan.
Karakteristik lahan gambut yang terbakar juga menjadi kendala tersendiri. Api pada lahan gambut dapat membutuhkan proses pendinginan berulang agar tidak kembali muncul, sementara keterbatasan sumber air membuat proses pemadaman menjadi semakin berat.
BNPB juga menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai salah satu upaya untuk membantu menghadirkan hujan di wilayah terdampak. Dalam pelaksanaannya, satu armada digunakan untuk melakukan penyemaian sekitar 800 kilogram garam selama lebih dari satu jam.
Meski demikian, hasil operasi modifikasi cuaca tersebut belum maksimal karena kondisi atmosfer belum mendukung terbentuknya hujan. Minimnya pertumbuhan awan menjadi salah satu faktor yang membuat penyemaian belum menghasilkan hujan seperti yang diharapkan.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat di wilayah terdampak tetap menjalankan aktivitas sehari-hari. Kegiatan belajar mengajar di sejumlah wilayah terdampak juga masih berlangsung, meskipun kondisi udara dan jarak pandang menjadi perhatian dalam aktivitas masyarakat.
Penanganan karhutla di Kalimantan Barat dilakukan secara terpadu dengan melibatkan unsur pemerintah, petugas pemadam, masyarakat, serta pihak terkait lainnya. Selain pemadaman, pengawasan terhadap wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran kembali terus dilakukan.
Pemerintah juga mendorong pengawasan dan penegakan aturan terhadap aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan. Langkah tersebut penting agar kebakaran tidak semakin meluas dan kualitas udara masyarakat dapat segera membaik.
Kondisi udara yang masih berbahaya membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan. Perkembangan kualitas udara dan informasi resmi mengenai kondisi karhutla perlu terus dipantau agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas dengan keadaan lingkungan.
Jurnalis : Danilo Fernandes
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !