Musim kemarau 2026 diperkirakan masih berlangsung di sebagian besar wilayah Indonesia hingga beberapa bulan ke depan. Berdasarkan pemutakhiran informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), waktu berakhirnya musim kemarau tidak akan terjadi secara bersamaan di seluruh daerah karena setiap wilayah memiliki pola musim yang berbeda.
Secara umum, BMKG memperkirakan musim kemarau 2026 akan berakhir secara bertahap mulai pertengahan hingga akhir Oktober. Namun, sejumlah wilayah masih berpotensi mengalami kondisi kering hingga November. Perbedaan tersebut dipengaruhi karakteristik iklim masing-masing daerah serta dinamika atmosfer yang berlangsung sepanjang tahun.
Sebelumnya, BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Data pemutakhiran Juni menunjukkan sebanyak 369 Zona Musim (ZOM), atau sekitar 48,84 persen wilayah daratan Indonesia, diprediksi mengalami puncak kemarau pada bulan tersebut.
Kondisi kemarau tahun ini juga diperkirakan cenderung lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal. BMKG mencatat sebanyak 437 ZOM atau sekitar 48,77 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah perkembangan fenomena El Niño. BMKG memprediksi fenomena tersebut dapat bertahan hingga awal 2027. Berdasarkan pemodelan yang diperbarui, peluang El Niño mencapai kategori moderat berada pada angka 98 persen, sementara peluang mencapai kategori kuat sebesar 62 persen.
Pengaruh El Niño dapat membuat kondisi atmosfer di sejumlah wilayah Indonesia menjadi lebih kering, terutama ketika berlangsung bersamaan dengan periode musim kemarau. Akibatnya, beberapa daerah berpotensi mengalami curah hujan yang lebih rendah serta periode tanpa hujan yang lebih panjang.
Meski demikian, kondisi kemarau tidak berarti seluruh wilayah Indonesia akan sepenuhnya terbebas dari hujan. BMKG masih memprakirakan adanya hujan lokal di sejumlah daerah karena dinamika atmosfer regional dan lokal tetap dapat mendukung pembentukan awan hujan. Dengan demikian, hujan dapat terjadi secara sporadis meskipun suatu wilayah secara umum masih berada dalam periode kemarau.
Berdasarkan karakteristik wilayah, durasi musim kemarau juga cukup beragam. Data BMKG menunjukkan wilayah Sumatera dapat mengalami kemarau sekitar 30 hingga 280 hari, Jawa sekitar 110 hingga 300 hari, Bali, NTB, dan NTT sekitar 190 hingga 290 hari. Sementara itu, Kalimantan diperkirakan mengalami kemarau sekitar 40 hingga 180 hari, Sulawesi 50 hingga 280 hari, serta Maluku dan Papua sekitar 30 hingga 230 hari.
BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk tetap mengantisipasi dampak musim kemarau, terutama terkait ketersediaan air. Penggunaan air secara bijak menjadi penting di tengah potensi kondisi kering yang masih berlangsung di sejumlah wilayah.
Selain persoalan ketersediaan air, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. BMKG mengingatkan agar masyarakat tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar, khususnya di wilayah yang memiliki vegetasi kering dan mudah terbakar.
Dengan demikian, musim kemarau 2026 diperkirakan mulai memasuki masa akhir pada pertengahan hingga akhir Oktober secara umum, meskipun beberapa wilayah masih dapat mengalami kondisi kering hingga November. Peralihan menuju musim hujan akan berlangsung secara bertahap dan waktunya berbeda-beda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi dan prakiraan cuaca terbaru dari BMKG agar dapat menyesuaikan aktivitas serta melakukan langkah antisipasi terhadap perubahan kondisi cuaca dan iklim.
Jurnalis : Danilo Fernandes
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !