Perselisihan antar-pengendara di jalan raya kembali menjadi perhatian setelah sejumlah video yang memperlihatkan perilaku agresif pengemudi ramai beredar di media sosial. Persoalan yang pada awalnya terlihat sederhana, seperti saling serobot, tersenggol, atau penggunaan klakson, dapat berkembang menjadi konflik apabila emosi tidak dikendalikan dengan baik.
Psikolog Klinis Diah Nurayu Kusumawardani menjelaskan bahwa berkendara memang menjadi salah satu situasi yang cukup mudah memunculkan rasa frustrasi. Kemacetan, perilaku pengguna jalan lain, suara klakson, serta kondisi terburu-buru karena khawatir terlambat dapat menjadi pemicu meningkatnya tekanan emosional seseorang.
Kondisi tersebut biasanya diawali dengan rasa tidak nyaman karena perjalanan tidak berjalan sesuai harapan. Pengendara yang berharap dapat tiba di tujuan dengan cepat, misalnya, justru harus menghadapi kemacetan atau bertemu pengguna jalan yang dianggap mengganggu. Frustrasi yang menumpuk kemudian dapat berkembang menjadi kemarahan.
Namun, menurut Diah, penyebab seseorang mudah terpancing emosi tidak selalu berasal dari kejadian yang terjadi di jalan. Kondisi psikologis sebelum berkendara juga dapat berpengaruh. Kelelahan, terburu-buru, tekanan pekerjaan, maupun persoalan pribadi yang belum terselesaikan dapat membuat seseorang memiliki toleransi yang lebih rendah terhadap situasi yang tidak menyenangkan.
Reaksi emosional biasanya semakin kuat ketika seseorang menilai tindakan pengendara lain sebagai bentuk ancaman, ketidakadilan, atau penghinaan. Misalnya ketika kendaraan diserobot secara tiba-tiba, sebagian orang dapat langsung menganggap dirinya tidak dihargai. Cara seseorang memaknai kejadian tersebut kemudian turut menentukan bagaimana ia memberikan respons.
Ketika kemarahan meningkat, tubuh juga dapat memberikan berbagai respons. Detak jantung menjadi lebih cepat, tubuh terasa tegang, dan perhatian seseorang cenderung terpusat pada hal yang membuatnya marah. Dalam kondisi seperti itu, seseorang dapat lebih mudah memikirkan keinginan untuk membalas dibandingkan mempertimbangkan risiko dari tindakan yang akan dilakukan.
Diah menegaskan bahwa perasaan marah dan perilaku agresif merupakan dua hal yang berbeda. Marah merupakan emosi yang dapat dirasakan seseorang, sedangkan agresif merupakan tindakan yang dilakukan sebagai respons terhadap emosi tersebut. Artinya, seseorang tetap dapat merasa marah tanpa harus melampiaskannya melalui tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Kemampuan untuk mengenali tanda-tanda kemarahan menjadi salah satu bagian penting dalam mengendalikan respons tersebut. Ketika seseorang menyadari bahwa emosinya mulai meningkat, ia memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak sebelum mengambil tindakan. Jeda tersebut dapat membantu seseorang berpikir lebih rasional dan menghindari keputusan yang bersifat spontan.
Sebaliknya, apabila seseorang tidak mampu mengenali dan mengendalikan emosinya, dorongan untuk bereaksi secara spontan dapat menjadi semakin kuat. Dalam situasi tertentu, hal tersebut dapat mendorong perilaku berkendara yang tidak aman dan meningkatkan risiko terjadinya konflik maupun kecelakaan.
Salah satu langkah penting untuk mencegah konflik di jalan adalah tidak langsung membalas tindakan pengendara lain. Ketika ada kendaraan yang memotong jalur atau menyalip secara tiba-tiba, pengendara sebaiknya tetap memprioritaskan keselamatan daripada berusaha membalas tindakan tersebut.
Jika emosi sudah terasa sangat kuat, pengendara disarankan memberikan waktu bagi dirinya untuk menenangkan diri. Apabila memungkinkan, kendaraan dapat diarahkan ke tempat yang aman dan tidak mengganggu arus lalu lintas. Setelah kondisi emosional lebih stabil, barulah pengendara menentukan langkah berikutnya.
Cara lain yang dapat dilakukan adalah mengevaluasi kembali kejadian yang memicu kemarahan. Tidak semua tindakan pengguna jalan lain harus dimaknai sebagai bentuk penghinaan atau kesengajaan. Bisa saja terdapat alasan tertentu yang tidak diketahui oleh pengendara lain. Mengubah sudut pandang terhadap sebuah kejadian dapat membantu menurunkan intensitas emosi.
Apabila terjadi insiden seperti kendaraan tersenggol atau kecelakaan ringan, penyelesaian juga sebaiknya dilakukan setelah kondisi kedua pihak lebih tenang. Kendaraan dapat dipindahkan ke lokasi yang aman agar tidak menghambat pengguna jalan lain. Setelah itu, persoalan dapat dibicarakan secara objektif tanpa memperbesar konflik.
Menurut Diah, keselamatan harus selalu ditempatkan di atas keinginan untuk memenangkan perdebatan di jalan. Ketika seseorang berada dalam kondisi emosi yang tinggi, kemampuan mengambil keputusan secara matang dapat terganggu. Karena itu, menunda respons merupakan pilihan yang jauh lebih aman dibandingkan mengikuti dorongan sesaat.
Pengendara juga perlu memahami bahwa situasi lalu lintas merupakan kondisi yang harus dihadapi bersama. Kemacetan, kendaraan yang bergerak lambat, maupun kesalahan pengguna jalan lain merupakan bagian dari dinamika perjalanan yang tidak selalu dapat dikendalikan. Dengan menerima kondisi tersebut, tekanan untuk selalu mendapatkan perjalanan yang sempurna dapat dikurangi.
Pengaturan waktu perjalanan juga dapat membantu mengurangi tekanan. Berangkat lebih awal dan memperhitungkan kemungkinan kemacetan dapat membuat pengendara tidak merasa terlalu terburu-buru. Dengan waktu yang lebih longgar, seseorang memiliki kesempatan lebih besar untuk tetap tenang ketika menghadapi kondisi lalu lintas yang tidak sesuai perkiraan.
Pada akhirnya, mengendalikan emosi saat berkendara bukan hanya untuk menjaga kenyamanan diri sendiri, tetapi juga merupakan bagian dari upaya menjaga keselamatan seluruh pengguna jalan. Konflik yang bermula dari persoalan kecil dapat dicegah apabila setiap pengendara mampu menahan diri, tidak mudah terprovokasi, serta mengutamakan penyelesaian masalah secara tenang dan objektif.
Pesan utama yang perlu diingat adalah jangan mengambil keputusan besar ketika emosi sedang berada pada tingkat tinggi. Memberikan jeda, menenangkan diri, dan memilih untuk tidak membalas provokasi dapat menjadi langkah sederhana untuk mencegah persoalan di jalan berkembang menjadi konflik yang lebih serius.
Jurnalis : Ghazy fikri izdihar
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !