Harga minyak dunia kembali bergerak menguat dalam perdagangan terbaru. Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran, khususnya menyangkut kondisi serta akses pelayaran di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur penting bagi perdagangan energi dunia.
Mengacu pada perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026 atau Rabu pagi waktu Jakarta, harga minyak mencatat penguatan selama tiga hari berturut-turut. Minyak mentah Brent berjangka naik 15 sen dan ditutup pada level US$91,02 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat bertambah 44 sen dan menetap di posisi US$84,94 per barel. Kedua kontrak tersebut bahkan sempat menyentuh level tertinggi dalam sekitar tiga pekan perdagangan.
Pergerakan harga tersebut tidak terlepas dari perkembangan situasi di Selat Hormuz. Iran menyatakan akan mempertahankan penutupan jalur strategis tersebut sampai Amerika Serikat memenuhi sejumlah ketentuan dalam kesepakatan sementara yang sebelumnya dicapai. Pernyataan tersebut menimbulkan kekhawatiran pelaku pasar mengenai kemungkinan terganggunya arus pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah.
Selat Hormuz memiliki posisi yang sangat penting dalam perdagangan energi internasional. Jalur tersebut menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi salah satu rute utama bagi pengiriman minyak mentah serta produk energi dari sejumlah negara produsen di Timur Tengah menuju pasar global.
Kondisi tersebut membuat setiap perubahan situasi di sekitar Selat Hormuz dapat memberikan pengaruh terhadap sentimen pasar. Ketika pelaku pasar melihat adanya risiko gangguan terhadap distribusi minyak, kekhawatiran mengenai pasokan dapat meningkat dan mendorong harga minyak bergerak lebih tinggi.
Di tengah situasi tersebut, perkembangan perundingan antara Washington dan Teheran juga menjadi perhatian. Harapan mengenai tercapainya kesepakatan yang dapat meningkatkan kembali lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz dinilai belum menunjukkan perkembangan yang cukup kuat. Kondisi ini membuat pasar minyak masih menghadapi ketidakpastian.
Sejumlah analis memperkirakan tekanan terhadap harga minyak masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat apabila ketegangan antara kedua negara tidak segera mereda. Ketidakpastian mengenai keamanan jalur pelayaran dapat membuat pelaku industri meningkatkan kewaspadaan dan memperhitungkan risiko tambahan dalam kegiatan pengiriman energi.
Meski demikian, aktivitas pengiriman minyak melalui kawasan tersebut belum sepenuhnya berhenti. Sejumlah kapal masih dapat melintasi Selat Hormuz, meskipun jumlahnya jauh lebih terbatas dibandingkan kondisi normal. Perusahaan energi juga mulai menyesuaikan metode pengiriman untuk mengurangi risiko akibat kondisi keamanan yang belum stabil.
Perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, dilaporkan telah kembali melakukan pemuatan minyak dari wilayah yang berada di dalam kawasan Selat Hormuz. Pengiriman juga dilakukan melalui metode transfer antar-kapal di sekitar Fujairah, Uni Emirat Arab, sebagai salah satu cara untuk menyesuaikan kegiatan distribusi dengan kondisi pelayaran yang ada.
Selain perkembangan di Selat Hormuz, pasar energi juga terus mencermati kondisi keamanan di kawasan Timur Tengah lainnya. Pergerakan di Laut Merah serta situasi geopolitik di sejumlah negara kawasan turut menjadi faktor yang dapat memengaruhi persepsi investor terhadap keamanan jalur perdagangan energi.
Bagi negara-negara konsumen energi, kenaikan harga minyak dunia perlu mendapat perhatian karena perubahan harga minyak dapat berdampak terhadap berbagai sektor perekonomian. Harga energi memiliki hubungan dengan biaya transportasi, produksi, serta sejumlah kebutuhan industri sehingga gejolak berkepanjangan berpotensi memberikan tekanan terhadap perekonomian secara lebih luas.
Untuk sementara, pasar minyak masih menunggu perkembangan lebih lanjut mengenai hubungan Amerika Serikat dan Iran serta kondisi pelayaran di Selat Hormuz. Jika ketegangan mereda dan arus kapal tanker kembali normal, tekanan terhadap harga minyak berpotensi berkurang. Sebaliknya, apabila gangguan pasokan semakin besar, pasar dapat kembali menghadapi tekanan kenaikan harga.
Dengan kondisi geopolitik yang masih dinamis, investor dan pelaku industri energi diperkirakan akan terus mencermati setiap perkembangan dari kawasan Timur Tengah. Selat Hormuz tetap menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan karena perubahan kondisi di jalur tersebut dapat dengan cepat memengaruhi sentimen dan pergerakan harga minyak dunia.
Jurnalis : Ghazy fikri izdihar
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !