Kemarau Panjang Surutkan Sungai Batang Tembesi, Hamparan Pasir Nyaris Menutupi Aliran Sungai

Musim kemarau menyebabkan debit air Sungai Batang Tembesi di Sarolangun, Jambi, menyusut dalam beberapa pekan terakhir. Surutnya aliran sungai yang menghilir ke Sungai Batanghari itu memunculkan hamparan pasir hingga sepanjang 75 meter dari tepi sungai.

Kemarau Panjang Surutkan Sungai Batang Tembesi, Hamparan Pasir Nyaris Menutupi Aliran Sungai

Musim kemarau yang melanda wilayah Jambi dalam beberapa pekan terakhir menyebabkan debit air Sungai Batang Tembesi di Kabupaten Sarolangun mengalami penyusutan secara signifikan. Dampak dari berkurangnya curah hujan membuat hamparan pasir bermunculan di sepanjang bantaran sungai hingga hampir menutupi separuh aliran air. Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran nyata dampak musim kemarau yang mulai dirasakan masyarakat di wilayah tersebut.

Berdasarkan pantauan di lokasi, hamparan pasir yang sebelumnya berada di dasar sungai kini terlihat membentang hingga sekitar 75 meter dari tepi sungai. Air yang biasanya mengalir deras kini menyempit dan hanya mengalir di sebagian kecil badan sungai. Fenomena ini telah berlangsung selama kurang lebih tiga pekan dan diperkirakan masih akan berlanjut apabila hujan belum kembali turun dengan intensitas yang memadai.

 

Sungai Batang Tembesi merupakan salah satu anak Sungai Batanghari yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat. Selain menjadi sumber air bagi aktivitas sehari-hari, sungai ini juga dimanfaatkan untuk perikanan, transportasi lokal, hingga mendukung aktivitas pertanian di sepanjang daerah aliran sungai. Menurunnya debit air dikhawatirkan akan memengaruhi berbagai sektor tersebut apabila kondisi kemarau berlangsung lebih lama.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memperkirakan bahwa puncak musim kemarau di Provinsi Jambi terjadi pada Agustus hingga September 2026. Penurunan curah hujan yang cukup drastis menyebabkan pasokan air permukaan terus berkurang, sementara suhu udara yang meningkat mempercepat proses penguapan sehingga memperparah penyusutan debit sungai.

Musim kemarau menyebabkan debit air Sungai Batang Tembesi di Sarolangun, Jambi, menyusut dalam beberapa pekan terakhir. Surutnya aliran sungai yang menghilir ke Sungai Batanghari itu memunculkan hamparan pasir hingga sepanjang 75 meter dari tepi sungai.

 

Selain berdampak terhadap ketersediaan air, penyusutan Sungai Batang Tembesi juga memunculkan kekhawatiran akan meningkatnya risiko kekeringan di sejumlah wilayah. Apabila kondisi ini terus berlanjut, pasokan air bersih bagi masyarakat dapat terganggu. Di sektor pertanian, lahan yang mengandalkan irigasi dari sungai juga berpotensi mengalami penurunan produktivitas akibat berkurangnya ketersediaan air. Di sisi lain, aktivitas nelayan sungai dan transportasi air diperkirakan ikut terdampak karena semakin dangkalnya aliran sungai.

Fenomena munculnya hamparan pasir yang luas di dasar sungai menjadi pemandangan yang jarang terlihat pada musim hujan. Meski menarik perhatian masyarakat, kondisi tersebut sebenarnya menjadi indikator bahwa debit air sungai berada pada level yang jauh lebih rendah dibandingkan kondisi normal. Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus memantau perkembangan situasi sebagai bagian dari upaya mengantisipasi dampak kekeringan yang lebih luas.

Musim kemarau menyebabkan debit air Sungai Batang Tembesi di Sarolangun, Jambi, menyusut dalam beberapa pekan terakhir. Surutnya aliran sungai yang menghilir ke Sungai Batanghari itu memunculkan hamparan pasir hingga sepanjang 75 meter dari tepi sungai.

 

BMKG juga mengingatkan bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut maupun vegetasi yang mudah mengering. Oleh karena itu, masyarakat diminta menggunakan air secara bijaksana, tidak melakukan pembakaran lahan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak yang dapat ditimbulkan selama musim kemarau berlangsung.

Pemerintah berharap seluruh masyarakat dapat berperan aktif dalam menjaga lingkungan dan menghemat penggunaan air selama musim kemarau. Dengan langkah antisipasi yang tepat serta kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, dampak kekeringan diharapkan dapat diminimalkan sehingga kebutuhan air bersih dan aktivitas ekonomi warga tetap dapat berjalan dengan baik.

Jurnalis : Danilo Fernandes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya

Mengungkap Fakta Terkini

Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !