Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau tahun 2026 akan terjadi pada periode Agustus hingga September. Pada masa tersebut, sejumlah wilayah di Indonesia diperkirakan mengalami penurunan curah hujan yang cukup signifikan sehingga berpotensi menghadapi kekeringan dengan tingkat yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya. Kondisi ini perlu diantisipasi sejak dini karena dapat berdampak pada berbagai sektor, mulai dari pertanian, ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
BMKG menyebut wilayah yang memiliki potensi kekeringan paling tinggi meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan, serta Sulawesi bagian selatan. Daerah-daerah tersebut diperkirakan masih akan mengalami curah hujan di bawah kondisi normal hingga awal Oktober sebelum memasuki masa peralihan menuju musim hujan. Akibatnya, kebutuhan air untuk rumah tangga, pertanian, maupun industri diperkirakan akan mengalami tekanan cukup besar apabila tidak dilakukan langkah mitigasi sejak sekarang.
Pulau Jawa menjadi salah satu wilayah yang paling mendapat perhatian karena memiliki jumlah penduduk yang besar sekaligus menjadi pusat produksi pangan nasional. Berkurangnya curah hujan dalam waktu yang cukup panjang dapat memengaruhi produktivitas lahan pertanian, mengurangi debit sungai dan waduk, serta meningkatkan kebutuhan distribusi air bersih ke sejumlah daerah yang rawan kekeringan.
Sementara itu, Bali dan Nusa Tenggara secara klimatologis memang dikenal sebagai kawasan yang kerap mengalami musim kemarau lebih panjang dibandingkan wilayah lain di Indonesia. Dengan kondisi tersebut, masyarakat di daerah tersebut diimbau lebih bijak dalam menggunakan air bersih serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan terjadinya kekeringan berkepanjangan selama puncak musim kemarau berlangsung.
Di wilayah Kalimantan bagian selatan dan tengah, curah hujan yang berada di bawah normal juga diperkirakan meningkatkan jumlah titik panas (hotspot) yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan. Kondisi serupa juga diprediksi terjadi di sebagian wilayah Sulawesi Selatan yang diperkirakan masih mengalami defisit hujan hingga September. Oleh karena itu, pemerintah daerah bersama instansi terkait diminta meningkatkan patroli dan upaya pencegahan kebakaran sejak dini.
BMKG menjelaskan bahwa musim kemarau tahun ini masih dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga awal tahun 2027. Meski intensitasnya diproyeksikan mulai melemah pada pertengahan Oktober, dampaknya terhadap pola curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia masih cukup terasa selama puncak musim kemarau berlangsung. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dan berdurasi lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau pemerintah daerah, pelaku usaha, sektor pertanian, dan masyarakat untuk melakukan berbagai langkah antisipasi. Beberapa di antaranya adalah menghemat penggunaan air, mengoptimalkan cadangan air bersih, melakukan penyesuaian pola tanam, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan yang umumnya meningkat selama musim kemarau. Upaya mitigasi yang dilakukan sejak dini diharapkan mampu mengurangi dampak sosial maupun ekonomi akibat kekeringan yang diprediksi terjadi pada puncak musim kemarau tahun ini.
Jurnalis : Danilo Fernandes
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !