Dalam ajaran Islam, terdapat kabar gembira yang disampaikan Rasulullah SAW mengenai adanya sekelompok umat yang akan memperoleh keistimewaan luar biasa pada hari kiamat, yaitu masuk surga tanpa melalui proses hisab (perhitungan amal) maupun azab. Jumlah mereka disebutkan sebanyak 70 ribu orang, sebagaimana termaktub dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Hadis tersebut menjadi motivasi bagi setiap Muslim untuk memperbaiki kualitas keimanan dan amal ibadah agar dapat termasuk dalam golongan yang dimuliakan oleh Allah SWT.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa golongan tersebut memiliki beberapa sifat utama yang menunjukkan tingginya tingkat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Salah satu sifat yang paling menonjol adalah memiliki tawakal yang sempurna. Tawakal bukan berarti menyerah tanpa usaha, melainkan melakukan ikhtiar secara maksimal kemudian menyerahkan seluruh hasilnya kepada kehendak Allah. Orang yang bertawakal meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas izin-Nya sehingga hatinya tetap tenang dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Selain memiliki tawakal yang kuat, golongan ini juga dikenal tidak meminta diruqyah kepada orang lain. Para ulama menjelaskan bahwa ruqyah syar’iyyah tetap diperbolehkan dalam Islam, namun keistimewaan tersebut diberikan kepada mereka yang tidak bergantung kepada manusia dalam urusan kesembuhan dan lebih menguatkan ketergantungannya kepada Allah SWT. Hal ini menunjukkan kesempurnaan keyakinan bahwa hanya Allah yang memberikan kesembuhan dan pertolongan kepada hamba-Nya.
Sifat berikutnya adalah tidak melakukan tathayyur atau mempercayai pertanda sial. Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi berada dalam ketetapan Allah SWT sehingga seorang Muslim tidak boleh meyakini adanya benda, hewan, hari tertentu, atau kejadian tertentu yang membawa kesialan. Kepercayaan seperti itu dapat mengurangi kesempurnaan tauhid dan bertentangan dengan ajaran Islam yang menempatkan Allah sebagai satu-satunya pengatur seluruh kehidupan manusia.
Hadis tersebut juga menyebutkan bahwa mereka tidak melakukan pengobatan dengan cara kay atau membakar tubuh menggunakan besi panas, kecuali dalam kondisi yang benar-benar darurat. Para ulama menerangkan bahwa hal ini bukan berarti Islam melarang pengobatan, melainkan menunjukkan tingginya tingkat tawakal yang dimiliki oleh golongan tersebut sehingga mereka tidak bergantung pada metode pengobatan yang dianggap berat dan menyakitkan. Islam sendiri tetap menganjurkan umatnya berobat dengan cara-cara yang dibenarkan syariat dan ilmu kedokteran.
Sebagian riwayat lain menjelaskan bahwa jumlah orang yang memperoleh keistimewaan tersebut sesungguhnya jauh lebih banyak dari angka 70 ribu. Rasulullah SAW menyampaikan bahwa Allah SWT memberikan tambahan bagi umatnya sehingga jumlah mereka menjadi sangat besar. Hal ini menunjukkan betapa luasnya rahmat dan kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW serta membuka harapan bagi setiap Muslim untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dan keikhlasan dalam beramal.
Para ulama menegaskan bahwa inti dari seluruh sifat tersebut adalah menjaga kemurnian tauhid, menjauhi segala bentuk kesyirikan, memperkuat tawakal, serta senantiasa menggantungkan harapan hanya kepada Allah SWT. Keistimewaan masuk surga tanpa hisab bukanlah sesuatu yang dapat diraih hanya dengan angan-angan, melainkan melalui keimanan yang kokoh, amal saleh yang istiqamah, dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi umat Islam, hadis ini menjadi pengingat bahwa tujuan utama seorang hamba bukan hanya memperbanyak ibadah, tetapi juga memperbaiki kualitas hati, memperkuat keyakinan kepada Allah, serta menjadikan tauhid sebagai landasan dalam setiap aspek kehidupan. Dengan demikian, setiap Muslim memiliki kesempatan untuk meraih rahmat Allah SWT dan berharap termasuk dalam golongan hamba-hamba-Nya yang memperoleh kemuliaan pada hari akhir kelak.
Jurnalis : Rizki Ahmad Noviyandi
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !