Kecamatan Cipayung Targetkan Lebih dari 50 Persen Sampah Organik Tertangani Melalui Program 1.000 Lubang Biopori

Kecamatan Cipayung Targetkan Lebih dari 50 Persen Sampah Organik Tertangani Melalui Program 1.000 Lubang Biopori

Pemerintah Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, terus memperkuat upaya pengelolaan sampah berbasis lingkungan dengan menargetkan penanganan lebih dari 50 persen sampah organik melalui program pembangunan 1.000 lubang biopori. Program ini menjadi salah satu langkah strategis dalam mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya.

Lubang biopori merupakan teknologi sederhana yang dibuat dengan cara melubangi tanah secara vertikal untuk meningkatkan daya resap air sekaligus menjadi media penguraian sampah organik. Sampah seperti sisa makanan, dedaunan, dan limbah organik rumah tangga dapat dimasukkan ke dalam lubang tersebut untuk diolah secara alami oleh organisme tanah menjadi kompos yang bermanfaat bagi lingkungan.

Melalui program ini, Kecamatan Cipayung berharap dapat mengurangi ketergantungan terhadap sistem pengangkutan sampah konvensional. Dengan semakin banyak sampah organik yang diolah langsung di lingkungan warga, jumlah sampah yang harus dibawa ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) maupun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dapat ditekan secara signifikan.

Pemerintah setempat menilai bahwa pengelolaan sampah tidak dapat hanya mengandalkan petugas kebersihan atau fasilitas pengolahan milik pemerintah. Keterlibatan masyarakat menjadi faktor utama keberhasilan program lingkungan. Karena itu, pembangunan lubang biopori dilakukan dengan melibatkan warga, pengurus lingkungan, sekolah, serta berbagai komunitas yang peduli terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Selain membantu mengurangi volume sampah, lubang biopori juga memiliki manfaat lain yang tidak kalah penting. Sistem ini mampu meningkatkan daya serap air ke dalam tanah sehingga dapat membantu mengurangi genangan maupun risiko banjir saat musim hujan. Dengan semakin banyak titik resapan yang tersedia, air hujan dapat masuk ke dalam tanah lebih cepat dibandingkan mengalir langsung ke saluran drainase.

Program 1.000 biopori juga menjadi bagian dari upaya mendukung kebijakan pengurangan sampah yang tengah digalakkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pengelolaan sampah berbasis masyarakat dinilai sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan sampah perkotaan yang terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah kecamatan terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai tata cara pembuatan serta pemanfaatan lubang biopori. Warga diberikan pemahaman bahwa pengelolaan sampah organik sebenarnya dapat dilakukan dengan mudah dan murah di lingkungan masing-masing tanpa memerlukan teknologi yang rumit.

Sejumlah wilayah di Kecamatan Cipayung telah mulai menerapkan sistem pengelolaan sampah berbasis biopori dan menunjukkan hasil yang positif. Selain lingkungan menjadi lebih bersih, warga juga memperoleh manfaat dari kompos yang dihasilkan untuk kebutuhan tanaman maupun penghijauan lingkungan sekitar.

Dengan target lebih dari 50 persen sampah organik dapat ditangani melalui 1.000 lubang biopori, Kecamatan Cipayung berharap dapat menjadi salah satu wilayah percontohan dalam pengelolaan sampah berkelanjutan di Jakarta. Keberhasilan program ini diharapkan mampu menginspirasi wilayah lain untuk menerapkan langkah serupa demi menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan ramah terhadap generasi mendatang.

Jurnalis : Hanadia

author avatar
Wartawan Fakta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda mungkin juga menyukainya
Dapatkan Notifikasi Fakta Terkini

Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !