JAKARTA – Penulis independen Abdul Rohman Sukardi membedah dinamika pandangan dunia kekristenan global terhadap konflik Israel-Palestina. Menurutnya, terdapat tiga arus besar dengan pendekatan yang berbeda, namun memiliki implikasi politik yang nyata.
Gereja Katolik yang dipimpin Paus Fransiskus secara konsisten mendukung solusi dua negara dan menekankan status khusus Yerusalem sebagai kota suci bersama. Vatikan menolak klaim eksklusif dan selalu menyerukan perlindungan bagi warga sipil serta perdamaian berdasarkan hukum internasional.
Berbeda halnya dengan Protestan arus utama di Eropa dan Amerika Utara yang lebih menekankan aspek hak asasi manusia dan keadilan sosial. Figur seperti Desmond Tutu menjadi simbol kritik terhadap pendudukan, sementara gereja-gereja progresif mendukung rekonsiliasi dan perlindungan hak-hak Palestina.
Sementara itu, kelompok Evangelikal dan Pentakosta, khususnya di Amerika Serikat, memiliki pandangan yang sangat politis. Banyak di antaranya yang sangat pro-Israel karena keyakinan teologis dan nubuat Alkitab (Christian Zionism), yang pernah sangat mempengaruhi kebijakan era Donald Trump dalam pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota.
Data menunjukkan dukungan Evangelikal kulit putih terhadap Israel mencapai di atas 60%, jauh lebih tinggi dibanding kelompok Protestan lainnya.
Pada akhirnya, kekristenan global bukanlah satu suara tunggal. Isu Palestina dan Yerusalem kini menjadi medan pertemuan antara diplomasi kemanusiaan, etika sosial, hingga tafsir teologi yang berbeda-beda, yang turut membentuk arah politik dunia.
Editor by Mas Tarno
Sumber berita Abdul Rohman
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !