JAKARTA – Bantuan kemanusiaan sering menjadi alat diplomasi yang efektif, namun juga dapat membawa konsekuensi politik dan tekanan diplomatik.
Indonesia, sebagai negara penerima bantuan, harus berhati-hati dalam mengelola bantuan asing untuk menjaga kedaulatan dan otoritas hukum nasional.
Kasus tsunami Aceh 2004 dan eksekusi mati Bali Nine menunjukkan bagaimana bantuan kemanusiaan dapat digunakan sebagai alat tekanan diplomatik.
Australia, sebagai donor utama, menggunakan bantuan untuk meminta pengampunan bagi warga negaranya yang divonis dalam perkara narkotika.
“Dalam sistem internasional yang sarat kepentingan, membuka pintu bantuan asing berarti juga membuka ruang tekanan,” kata Abdul Rohman Sukardi, penulis catatan harian.
Pemerintah Indonesia harus merumuskan mekanisme yang memungkinkan kemanusiaan dan kedaulatan berjalan berdampingan tanpa saling menegasikan.
Salah satu solusi adalah meningkatkan kemampuan dan kemandirian nasional, sehingga tidak terlalu bergantung pada bantuan asing.
“Atau kita bergegas menjadi makmur sehingga tidak perlu bantuan asing. Justru menjadi kontributor dalam misi kemanusiaan global,” tambah Sukardi.
Bagaimana pendapat Anda? Apakah bantuan kemanusiaan asing dapat membawa lebih banyak manfaat daripada kerugian ( Red )
Aktifkan notifikasi untuk mendapatkan update berita terbaru, fakta penting, dan informasi viral langsung ke perangkat Anda.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !